Tangga JPO Kuningan Madya Sempat Berlubang, Pelat Diduga Dicuri

2026-01-14 18:44:17
Tangga JPO Kuningan Madya Sempat Berlubang, Pelat Diduga Dicuri
JAKARTA, – Delapan pelat besi pada anak tangga JPO Kuningan Madya, Setiabudi, Jakarta Selatan, sempat hilang pada Jumat .Video yang diunggah warga @ijoeel di Instagram memperlihatkan bagian tengah tangga berlubang, membuat pejalan kaki harus berhati-hati.Tampak hanya kerangka anak tangga besi dengan bagian tengahnya yang bolong.Dalam video yang tersebar itu, seorang anak laki-laki terlihat ragu saat menaiki tangga, berpegangan pada ibunya dan teralis.Baca juga: JPO Lenteng Agung Sempit, Warga: Terlalu Dempet, Kadang Ada yang JatuhWarga sekitar menduga pelat besi tangga dicuri orang tak dikenal.“Saya enggak lihat langsung, tapi kata petugas sih dirayap (dicuri),” ujar Asep, warga sekitar, saat ditemui di sekitar JPO, Senin Aksi dugaan pencurian pelat besi tangga JPO ini baru pertama kali terjadi di lokasi tersebut.Petugas Bina Marga segera mengganti delapan pelat tangga yang hilang keesokan harinya.“Iya, ini baru digantinya, kemaren pas malam Minggu,” kata Asep.Pelat tangga baru terlihat lebih tebal, berwarna gelap karena dilapisi semen, dan tidak menimbulkan bunyi saat diinjak.Pada Senin pagi, tangga JPO sudah digunakan banyak pekerja untuk mengakses Halte Transjakarta Kuningan Madya.Baca juga: JPO Lebak Bulus Gelap Gulita, Warga Khawatir Pejalan Kaki CelakaTerkait hilangnya pelat besi, Kapolsek Setiabudi AKBP Ardiansyah menyatakan belum ada laporan resmi.“Saya sudah cek ke pelayanan maupun unit reskrim, belum ada laporannya ke Polsek (Setiabudi). Nanti Kanit Reskrim saya suruh cek TKP-nya,” kata Ardiansyah.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-01-14 17:43