Priyo Bertahan di Pasar Beringharjo, Menjaga Kaset Pita dari Lupa Zaman

2026-02-03 00:19:31
Priyo Bertahan di Pasar Beringharjo, Menjaga Kaset Pita dari Lupa Zaman
YOGYAKARTA, - Pasar Beringharjo di Kota Yogyakarta selalu ramai dengan pengunjung.Tidak hanya di dalam pasar, kesibukan pedagang dan pembeli juga terasa sampai sisi Utara Pasar Beringharjo.Di gang berukuran dua meter ini, pedagang dan pengunjung lalu lalang.Baca juga: Lorong Bawah Tanah Blok M Square: Surga Para Pemburu Kaset dan VinylDuduk seorang pria bernama Priyo Sanyoto (68) sedang menunggu barang dagangannya.Di era serba digital, Priyo tetap berjualan kaset pita di Pasar Beringharjo.Priyo berjualan sejak tahun 1988 hingga sekarang.Tak pernah terpikirkan oleh Priyo untuk alih profesi atau beralih barang jualan.Koleksi kaset-kaset lawasnya cukup lengkap, dari dangdut, campur sari, pop Indonesia, hingga genre jazz serta klasik ia miliki.Nampak di rak kaset miliknya album dari band lawas Genesis, Poweslaves, Soneta, hingga album instrumental dari Joe Satriani dipajang.“Sudah dari tahun 1988 itu jualan kaset pita, dulu di sekitar Gaok (Malioboro). Lalu tahun 2012 pindah sini (Pasar Beringharjo),” katanya, ditemui di Pasar Beringharjo, Selasa .Pada tahun 2012, di Pasar Beringharjo, penjual kaset pita ada 3 orang, kini hanya tinggal Priyo yang berjualan kaset pita.“Dulu tiga orang di sini, sekarang lainnya sudah ganti jualan lain,” kata dia.Puncak keemasan berjualan kaset pita ada di tahun 90-an hingga tahun 2000 awal.Di masa kejayaan ini, dia mampu menyekolahkan anaknya hingga perguruan tinggi. “Dulu bisa menyekolahkan 3 anak saya sampai kuliah,” kata dia.Kini pendapatannya tak menentu, kadang kaset pita miliknya laku, kadang ia pulang dengan tangan hampa.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Dalam pembukaan forum yang berlangsung di Hedley Bull Lecture Theater 3 tersebut, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Fajar Riza Ul Haq juga menekankan bahwa pembudayaan Bahasa Indonesia tak lagi hanya menjadi urusan domestik, tetapi sudah menjadi bagian dari strategi diplomasi yang relevan di tengah perubahan geopolitik kawasan.Ia menyebut bahwa posisi Indonesia dan Australia yang semakin strategis dalam dinamika Indo-Pasifik membuat penguatan bahasa menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditunda.Menurutnya, kedua negara tidak hanya berbagi kedekatan geografis dan hubungan diplomatik yang panjang, tetapi juga berada pada simpul penting ekonomi masa depan.Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia dan Australia sama-sama memiliki peran besar dalam rantai pasok mineral strategis yang menjadi tulang punggung transisi energi dan industri berkelanjutan. Situasi ini menempatkan kerja sama kedua negara bukan semata hubungan bilateral, tetapi bagian dari arsitektur geoekonomi global.Di atas fondasi itulah, bahasa dan pendidikan dipandang sebagai jembatan yang memperkuat kemitraan jangka panjang. Penguasaan Bahasa Indonesia di Australia maupun peningkatan pemahaman budaya di kedua belah pihak diyakini mampu memperluas ruang kolaborasi, mulai dari dunia akademik, industri, hingga diplomasi publik.“Saya hadir mewakili Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Bapak Abdul Mu’ti dalam acara Kongres Pertama Bahasa Indonesia ini untuk menegaskan komitmen pemerintah Indonesia dalam memperkuat peran Bahasa Indonesia di kawasan regional dan global melalui diplomasi pendidikan dan kebudayaan,” tegasnya.

| 2026-02-03 00:05