Kemenhut dan Bank Dunia Perkuat Rehabilitasi Mangrove Kaltara lewat M4CR

2026-01-12 03:54:44
Kemenhut dan Bank Dunia Perkuat Rehabilitasi Mangrove Kaltara lewat M4CR
- Komitmen Kementerian Kehutanan (Kemenhut) dalam rehabilitasi mangrove dan ketahanan masyarakat pesisir terus diperkuat melalui program Mangroves for Coastal Resilience (M4CR) yang didukung Bank Dunia hingga 2027.Dukungan tersebut ditunjukkan melalui kegiatan kunjungan lapangan oleh Franka Braun, Senior Natural Resource Management Specialist Bank Dunia di Kalimantan Utara (Kaltara).Franka menegaskan bahwa rehabilitasi mangrove perlu dilaksanakan secara menyeluruh.“Program M4CR perlu dilaksanakan secara komprehensif. Rehabilitasi mangrove tidak hanya bermanfaat bagi pemulihan lingkungan, tetapi juga ketahanan pangan serta pertumbuhan ekonomi masyarakat pesisir,” ujar Franka dalam rilis pers yang diterima Kompas.com, Senin .Kalimantan Utara merupakan salah satu lokasi prioritas pelaksanaan M4CR. Rehabilitasi mangrove di provinsi ini menggunakan teknik silvofishery, yaitu penanaman mangrove yang terintegrasi dengan budi daya ikan.Baca juga: Semarakkan Festival Mangrove Jawa Timur VIII, “Mangrove Harmony Ride” Hadir Memeriahkan AcaraDengan menghadirkan kembali mangrove pada tambak, kualitas air membaik, hama berkurang, dan hasil panen lebih stabil.Silvofishery menjadi cara agar ekonomi tambak tetap berjalan, sambil menjaga lingkungan secara berkelanjutan.Sejak M4CR telah menanam mangrove seluas 6.543 hektar (ha) di Kaltara. Hingga 2027, program ini menargetkan rehabilitasi seluas 21.541 ha, yang dicapai melalui kolaborasi antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, non-governmental organization (NGO), dan masyarakat pesisir.Selain rehabilitasi, M4CR turut memperkuat ekonomi pesisir melalui pengembangan usaha masyarakat melalui dari hasil tambak silvofishery. Baca juga: Hadapi Triple Planetary Crisis, Uni Eropa Gandeng ASEAN Lestarikan Hutan MangroveProduk seperti kerupuk amplang, pembuatan bumbu petis udang, dan pembuatan produk kriya kipas batik mangrove dikembangkan sebagai sumber nilai tambah ekonomi.Ketua Kelompok Usaha Kerajinan Tangan, Inggilad Taka Sarinah, mengaku merasakan manfaat langsung dari pelatihan yang diberikan.Ia mengatakan, masyarakat tidak hanya menampilkan kreativitas perempuan pesisir, tetapi juga menunjukkan bahwa pengembangan ekonomi kreatif dapat berjalan seiring dengan konservasi.“Pelestarian mangrove memberi ruang bagi kami untuk terus berkreasi. Kami ingin menunjukkan bahwa menjaga lingkungan dapat sejalan dengan penguatan usaha masyarakat,” jelas Sarinah.Pada kesempatan yang sama, Pelaksana Tugas (Plt) Camat Kecamatan Tana Lia, Satriawan menyampaikan apresiasi dan dukungannya terhadap pelaksanaan program M4CR.Baca juga: Menyambut Rusunawa Marunda Jadi Desa Wisata, dari Green House hingga Rumah MangroveIa menegaskan bahwa program M4CR tidak hanya menjaga keberlanjutan lingkungan, tetapi juga memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.“Program M4CR bukan hanya tentang menanam mangrove, tetapi juga memperkuat ekonomi masyarakat kami. Melalui pembibitan hingga pelestarian mangrove, warga merasakan peningkatan hasil panen dan stabilnya ekosistem pesisir melalui silvofishery,” ujar Satriawan.Untuk mencapai target rehabilitasi mangrove yang telah ditentukan, M4CR menempatkan ketepatan teknis sebagai kunci keberhasilan.Provincial Project Implementation Unit (PPIU) Manager M4CR Kaltara Akhmad Ashar Sarif menegaskan pentingnya pemilihan lokasi dan bibit yang sesuai.“Kami memastikan kesesuaian jenis tanaman, kualitas bibit, dan kondisi hidrologi di setiap lokasi dengan tetap mempertimbangkan kondisi sosial. Integrasi rehabilitasi dengan sistem silvofishery dan edukasi masyarakat terhadap pentingnya menjaga ekosistem mangrove tetap menjadi fokus utama agar manfaat ekologis, ekonomi, dan sosial berjalan beriringan,” tutup Sarif.


(prf/ega)