- Garis-garis gelap yang terbentuk di lereng Mars—dikenal sebagai recurring slope lineae (RSL)—telah lama menjadi misteri bagi para astronom.Garis musiman yang misterius ini diduga disebabkan oleh dua faktor: air asin yang mencair dari es musiman, atau pergerakan pasir kering yang berpindah.Namun, penelitian terbaru yang menggunakan data dari wahana antariksa memberikan petunjuk kuat yang menepis harapan adanya air di permukaan Mars.Alih-alih air, garis-garis gelap musiman itu ternyata didominasi oleh longsoran debu kering, angin, dan pasir.Baca juga: Besok, NASA Luncurkan Satelit Ganda ke Mars, Ini MisinyaCitra yang diperoleh sistem pencitraan TGO (CaSSIS) menunjukkan adanya kumpulan kawah tumbukan dan garis-garis gelap yang khas di bagian bawah lereng.Garis-garis ini menjadi subjek utama dalam sebuah studi yang baru-baru ini diterbitkan dalam jurnal Nature Communications, berjudul "Dust, sand and wind drive slope streaks on Mars" (Debu, pasir, dan angin mendorong garis lereng di Mars).Valentin Tertius Bickel, seorang peneliti pascadoktoral dari Center for Space and Habitability (CSH) di University of Bern dan penulis studi, menjelaskan bahwa bukti geostatistik terbaru menunjukkan RSL dapat disebabkan oleh faktor-faktor non-musiman yang "kering" atau tanpa air.Untuk mengukur secara kuantitatif penyebab garis-garis gelap ini, Bickel mengandalkan pembelajaran mesin (machine learning) untuk menganalisis lebih dari dua juta garis yang ditangkap oleh NASA's Mars Reconnaissance Orbiter (MRO) antara tahun 2006 dan 2024.Garis-garis ini kemungkinan terkait dengan pendorong kering non-musiman, termasuk tumbukan meteoroid, gempa Mars (marsquakes), dan angin.Dari "sensus garis" yang dikembangkannya, Bickel menemukan mayoritas fitur ini terjadi di lima titik panas (hotspots) yang berbeda selama 19 tahun terakhir.Ia menyimpulkan bahwa hanya sekitar 0,1 persen dari populasi yang terbentuk setiap tahun dapat dikaitkan langsung dengan peristiwa seperti tumbukan meteoroid dan gempa Mars."Dinamika debu, angin, dan pasir tampaknya menjadi pendorong musiman utama pembentukan garis lereng," kata Bickel dalam siaran pers ESA."Tumbukan meteoroid dan gempa tampaknya berbeda secara lokal, namun secara global relatif tidak signifikan sebagai pendorong."Baca juga: Wahana Tianwen-1 China Potret Komet Antarbintang 3I/ATLAS dari MarsTemuan ini memberikan bukti vital yang dapat menyelesaikan perdebatan tentang penyebab garis-garis gelap terbentuk di Mars. Lebih jauh, studi ini menawarkan wawasan tentang jenis kekuatan dinamis yang membentuk iklim Mars, baik secara musiman maupun non-musiman.Colin Wilson, ilmuwan proyek ESA untuk ExoMars Trace Gas Orbiter, menyambut baik temuan ini."Pengamatan ini dapat mengarah pada pemahaman yang lebih baik tentang apa yang terjadi di Mars hari ini," kata Colin Wilson. "Memperoleh observasi jangka panjang, berkelanjutan, dan berskala global yang mengungkap Mars yang dinamis adalah tujuan utama dari wahana pengorbit saat ini dan masa depan."Memahami dinamika lingkungan Mars sangat penting. Hal ini dapat menjawab pertanyaan paling mendasar para ilmuwan tentang Planet Merah, termasuk bagaimana dan kapan air permukaan menghilang, ke mana perginya, dan apakah kehidupan dapat berkembang di sana.
(prf/ega)
Misteri Garis Hitam di Mars Ternyata Dipicu Longsor Debu Kering, Bukan Air
2026-01-11 23:14:53
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-11 22:29
| 2026-01-11 22:23
| 2026-01-11 22:20
| 2026-01-11 21:50
| 2026-01-11 21:17










































