Kisah Yesi, Guru SD di Wilayah 3T Baturotok Sumbawa Melawan Sulitnya Akses Infrastruktur demi Pendidikan Bermakna

2026-01-12 22:58:52
Kisah Yesi, Guru SD di Wilayah 3T Baturotok Sumbawa Melawan Sulitnya Akses Infrastruktur demi Pendidikan Bermakna
SUMBAWA, - Keterbatasan infrastruktur dan internet buruk, tak menggoyahkan semangat seorang guru muda untuk menginspirasi di pedalaman yang masuk wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar) di Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB).Yesi Mahalalita (28), seorang guru PPPK di SDN 01 Baturotok, Kecamatan Batulanteh, membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk menghadirkan pendidikan yang berkualitas dan bermakna.Sebagai guru kelas tiga, Yesi tak hanya mengajar. Ia juga berjuang melawan tantangan geografis yang berat."Kondisi geografis jadi tantangan karena sekolah kami tergolong berada di daerah 3T. Apalagi kalau musim hujan seperti ini, akses jalan meresahkan dengan medan berlumpur, berbatu dan semakin sulit," kisah Yesi saat dikonfirmasi Rabu .Baca juga: Perjuangan Guru Honorer Perempuan di Kupang, Menumpang Truk Pasir Sejauh 50 Kilometer untuk MengajarApalagi kondisi jaringan internet juga tak kalah memprihatinkan, karena masih sulit akses.Keadaan ini semakin buruk ketika cuaca ekstrem yang dapat menyebabkan sinyal internet muncul tenggelam.Hingga kini, Desa Baturotok belum teraliri listrik PLN. Desa yang masuk wilayah hutan lindung di pegunungan puncak Ngengas ini masih menggunakan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) dan tenaga surya (PLTS).Untuk menuju desa ini dibutuhkan tenaga ekstra karena jalan licin, berbatu menyeberangi sungai, diperlukan kendaraan khusus seperti hartop, truk, motor trail, dan kendaraan lainnya untuk medan jalan yang berat.Kondisi geografis dan infrastruktur terbatas ini sangat berdampak pada konektivitas pembelajaran di sekolah.Apalagi dengan konsep merdeka belajar yang begitu dekat dengan penggunaan media pembelajaran berbasis teknologi digital dan perkembangan kecerdasan buatan."Saat ini untuk pembelajaran kami mengandalkan jaringan WiFi yang terkadang tidak berfungsi normal, itu pun dari jaringan satelit. Kalau musim hujan, sinyal hilang total dan voucher WiFi tidak stabil jaringannya," katanya.Baca juga: Cerita Gebya, Jejak Seorang Guru dari Ladang Sawit Sabah Malaysia yang Perjuangkan Pendidikan Anak TKIYesi mengakui bahwa pemanfaatan teknologi digital menjadi tantangan utama dalam proses pembelajaran di sekolah.Keterbatasan infrastruktur dan internet dengan kecepatan terbatas menyebabkan ketertinggalan dalam proses belajar lebih canggih dan modern. Namun, ia tidak menyerah."Alhamdulillah, walaupun dengan keterbatasan, beberapa siswa kami ada yang ikut ajang kompetisi lomba matematika, sains dan bahasa Inggris hingga tingkat nasional." "Baru-baru ini, salah satu siswi kami meraih juara di bidang OPPAI dalam rangka memperingati Hari Guru di Kabupaten Sumbawa," ungkapnya bangga.


(prf/ega)