SURABAYA, - Waluyo (47), seorang petugas makam mondar-mandir di area pemakaman dengan baju yang lusuh karena bercampur tanah. Wajar saja, ia baru melaksanakan tugasnya, membantu proses penguburan jenazah.Waluyo lantas duduk di dekat keranda yang baru saja ia bereskan. Di sampingnya, secangkir kopi hitam dan jemari kanannya menjepit sebatang rokok.“Istirahat dulu, tadi habis bantu urus jenazah,” kata Waluyo saat ditemui Kompas.com di area Tempat Pemakaman Umum (TPU) Jemur Wonosari, Surabaya pada Minggu .Bila ada orang yang meninggal dan dimakamkan di TPU Jemur Wonosari, Waluyo sudah bersiap dengan alat tempurnya. Ia menyebutnya, “menggali bumi”.Baca juga: Kisah Hariyanto, Preman yang Pilih Jalan Hidup Jadi Juru Kunci Makam di SurabayaDi waktu-waktu tertentu, ia membantu juru kunci untuk membersihkan makam, menyapu atau mencabut rumput liar. Tetapi, ia lebih sering membantu mengurus administrasi keperluan TPU.“Saya ngurusin yang ruwet-ruwet seperti administrasi. Jadi setiap kali ada orang meninggal itu kan kita harus bikin laporan ke RT RW,” ucapnya.Baca juga: Cerita Wagiman, Juru Kunci Muda yang Rawat Makam Pahlawan Nyi Ageng SerangSudah dua tahun belakangan, Waluyo bekerja sebagai petugas makam. Tetapi, ia juga memiliki pekerjaan lain sebagai kuli bangunan. Maklum, jika mengandalkan pekerjaan sebagai petugas makam, ia mendapat gaji Rp 188.000 per bulan.“Dapat Rp 200.000 sebenarnya tapi dipotong BPJS, jadi Rp 188.000. Itu gaji dari Pemerintah Kota Surabaya lewat Dinas Lingkungan Hidup,” ujarnya.Ia ingin adanya penambahan gaji untuk petugas makam. Waluyo juga sudah melakukan pengajuan melalui RT dan RW setempat tetapi belum ada angin segar.“Makanya saya juga enggak setiap hari di makam. Karena ya kerja di proyek bangunan itu,” imbuhnya.Angka Rp 188.000 per bulan jauh dari kata nominal tinggi. Tapi menurut Waluyo, bukan sekadar angka melainkan tanggung jawabnya.“Kalau pribadi, ngurusin makam itu enggak bisa dinominalkan, enggak ngikut UMR juga. Tapi tanggung jawabnya penuh. Kalau ada apa-apa di pemakaman siapa yang tanggung jawab? Memang ada orang yang peduli ngurusin makam?” ujarnya.Petugas makam juga harus bergelut dengan waktu yang tak menentu, sebab kematian seseorang hanya Tuhan yang menentukan. Oleh sebab itu, ia harus siap siaga penuh waktu.“Kalau ada meninggal malam, ya mau enggak mau kan menggali bumi malam. Terus belum lagi kalau hujan, sumber air di dalam itu pasti ada, kita nguras,” ungkapnya.Jika ia dapat memilih, ia tak ingin menjalani profesi sebagai petugas makam. Tapi, ada dorongan hati yang membuatnya untuk menjalani profesi ini.“Karena dorongan hati, kalau memang sisi lain enggak ada orang yang mau ngurusin makam, letak makam, dan semua kebutuhannya, tapi ini sudah dorongan hati,” tuturnya dengan serius.Ada pelajaran hidup yang ia dapatkan selama menjalani pekerjaan sebagai petugas makam. Uang dapat dicari di tempat lain, lebih dari itu ia mengharap banyak pahala.“Lebih menerima. Selama jadi petugas makam itu selalu mengingatkan, apa pun pangkat dan jabatan di dunia, semua orang akan berakhir di sini (pemakaman),” pungkasnya.
(prf/ega)
Waluyo, Juru Kunci Makam di Surabaya yang Bertahan karena Dorongan Hati Nurani
2026-01-12 07:06:05
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 06:57
| 2026-01-12 05:44
| 2026-01-12 05:13
| 2026-01-12 05:00
| 2026-01-12 04:50










































