JAKARTA, – Suasana pergantian tahun baru 2026 di Jakarta terasa berbeda karena Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengambil langkah untuk menahan euforia yang biasanya menghiasi malam 31 Desember dengan dentuman kembang api dan pesta cahaya yang meriah.Meskipun larangan penggunaan kembang api dan petasan diberlakukan sebagai bentuk empati terhadap korban bencana alam di Sumatera, warga Jakarta tetap menemukan cara merayakan momen pergantian tahun dengan sederhana.Di gang-gang dan kampung di wilayah kota, anak-anak tetap menunggu momen pergantian tahun dengan semangat, bermain kembang api kecil sambil diawasi orangtua.Dok. Ancol Taman Impian Ilustrasi pesta kembang api pada malam puncak pergantian Tahun Baru 2026.Warga Jakarta membuktikan bahwa kebahagiaan Tahun Baru tidak harus identik dengan pesta megah, tetapi bisa tercipta dari kebersamaan keluarga, keceriaan anak-anak, dan kreativitas sederhana yang tetap aman serta bermakna.Baca juga: Pramono Minta Warga Gunakan Transum Saat Rayakan Malam Tahun Baru di Bundaran HIRina (36), warga Jakarta, mengaku mendengar kabar soal larangan kembang api dan petasan, tetapi penjelasannya hanya terserap secara sekilas.Informasi datang dari WhatsApp atau berita yang lewat, sehingga membuatnya berada di posisi serba tanggung.Ia mengaku ingin menaati imbauan, tetapi juga tidak tega membatasi kegembiraan anak-anaknya."Saya sih dengar katanya kembang api sama petasan itu dilarang di Jakarta. Cuma ya dengarnya sekilas-sekilas doang," kata Rina saat ditemui di Tanah Abang, Senin ./HAFIZH WAHYU DARMAWAN Deretan penjual kembang api di kawasan Pasar Tanah Abang, Senin Ia menyebut larangan menyalakan kembang api tidak lantas membuatnya kehilangan momen perayaan Tahun Baru.Baca juga: Tak Ada Pesta Kembang Api Saat Malam Tahun Baru di Margo City, Diganti Doa BersamaIa tetap menemukan cara merayakan dengan cara sederhana di rumah, bersama keluarga dan anak-anak, tanpa harus menghadiri pesta besar atau keramaian."Paling di rumah saja, kan, rayain sama anak, sama keluarga, enggak ke tempat yang besar-besar gitu, enggak," kata dia.Ia pun memahami alasan pelarangan, tetapi tetap ingin memberi kesempatan anak-anak merayakan momen spesial."Karena tiap tahun juga begini. Anak-anak sudah nunggu dari lama. Mereka lihat tetangga main, temannya main, masa anak sendiri enggak dikasih," kata Rina.Rina bilang, ia tidak menolak esensi dari larangan tersebut.Ia hanya merasa penerapannya menjadi rumit ketika dihadapkan pada anak-anak yang belum sepenuhnya memahami empati."Saya ngerti sih maksud larangannya, buat empati juga katanya. Cuma ya itu, anak-anak kasihan, enggak ngerti juga, kan, setahun sekali," ujarnya.Di lingkungan tempat tinggal Rina, suara kembang api akan tetap terdengar meski larangan berlaku.Dentuman kecil terdengar dari sore hingga malam, menjadi hiburan sederhana bagi anak-anak."Di sekitar sini, mah, masih rame. Dari sore sudah bunyi-bunyi. Malamnya makin jadi, buat anak-anak itu hiburan, senang banget mereka," ujarnya.Baca juga: Rano Karno: Kami Tak Bisa Larang Warga Nyalakan Kembang Api Saat Tahun Baru
(prf/ega)
Tanpa Kembang Api, Orangtua Rayakan Tahun Baru Bersama Anak
2026-01-12 06:10:22
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 06:13
| 2026-01-12 06:13
| 2026-01-12 05:44
| 2026-01-12 04:29










































