Pramono Resmikan Gereja di Jakut: Tak Boleh Lagi Pembangunan Rumah Ibadah Ditahan

2026-02-07 04:19:25
Pramono Resmikan Gereja di Jakut: Tak Boleh Lagi Pembangunan Rumah Ibadah Ditahan
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meresmikan renovasi gereja HKI Tanjung Priok, Jakarta Utara. Pramono menegaskan bahwa dirinya menjadi gubernur untuk semua agama di Jakarta."Jadi intinya tempat-tempat seperti ini dan berkali-kali saya menyampaikan, saya kalau jadi gubernur, maka saya akan menjadi gubernur bagi semua agama," kata Pramono saat meresmikan gereja tersebut, Minggu .Pramono melarang adanya pembangunan rumah ibadah yang ditahan. Terlebih jika persyaratannya sudah lengkap."Nggak boleh lagi kalau persyaratannya itu sudah lengkap pembangunan rumah-rumah ibadah, rumah ibadah apa saja, ditahan-tahan, nggak boleh lagi," ucapnya.Lebih lanjut, Pramono mengatakan hampir semua acara keagamaan dihadirinya. Dia berharap kerukunan antarumat di Jakarta semakin baik."Harapan saya pribadi semoga kehidupan kerukunan antarumat di Jakarta menjadi lebih baik," sebutnya.Dalam peresmian itu, Pramono juga diberikan kain ulos khas Sumatera Utara. Dia juga berharap bangunan gereja itu bisa memberikan manfaat yang luas."Saya sungguh menyampaikan apresiasi kepada saudara-saudara sekalian, para jemaat, pengurus gereja dan para donatur yang telah menunjukkan komitmen kuat untuk membangun gereja ini dengan melakukan renovasi secara swadaya," tuturnya. Tonton juga video "Pramono Ungkap Banyak Siswa SMAN 72 Jakarta Minta Pindah Buntut Ledakan"[Gambas:Video 20detik]


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-02-07 08:19