JAKARTA, – Sindrom ovarium polikistik atau polycystic ovary syndrome (PCOS) perlu mendapat perhatian serius karena dapat memengaruhi kesehatan ibu dan janin sejak sebelum pembuahan hingga masa menyusui.Dokter Niken Pudji Pangastuti, SpOG KFER menjelaskan, PCOS merupakan kondisi kompleks yang berdampak luas pada sistem reproduksi dan metabolisme tubuh perempuan.“PCOS itu berdampak ke banyak hal. Selain pada kehamilan karena susah terjadi ovulasi, PCOS juga bisa membuat kehamilan lebih rentan,” jelasnya dalam acara Comprehensive Obgyn Service at Brawijaya Hospital Antasari, di Jakarta Selatan, Sabtu .Adapun sejumlah risiko PCOS yang bisa berdampak terhadap kehamilan yang perlu diketahui. Simak selengkapnya.Baca juga: 3 Gangguan Reproduksi yang Kerap Tak Terlihat, PCOS, Polip, dan MiomSalah satu dampak utama PCOS adalah gangguan ovulasi. Pada kondisi ini, sel telur tidak matang secara optimal sehingga pelepasannya menjadi tidak teratur. Efeknya haid tidak teratur atau bahkan tidak terjadi sama sekali./DEVI PATTRICIA Dokter Spesialis Obstetri & Ginekologi Subspesialis Fertilitas, Endokrinologi, dan Reproduksi, dr. Niken Pudji Pangastuti, SpOG KFER dalam acara Comprehensive Obgyn Service at Brawijaya Hospital Antasari, di Jakarta Selatan, Sabtu .Hal tersebut membuat proses terjadinya kehamilan menjadi lebih sulit dan sering kali memerlukan bantuan medis.Gangguan ovulasi inilah yang menjadi alasan banyak perempuan dengan PCOS membutuhkan waktu lebih lama untuk hamil atau harus menjalani program kehamilan dengan pengawasan dokter.Baca juga: Cara Alami Hamil Anak Laki-laki: Perhatikan Masa Ovulasi dan Frekuensi SeksSelain mempersulit terjadinya pembuahan, PCOS juga meningkatkan risiko keguguran, terutama pada awal kehamilan. Salah satu penyebabnya adalah gangguan hormonal yang memengaruhi kesiapan rahim untuk mempertahankan kehamilan.“Kondisi ini juga bisa mudah untuk terjadi keguguran karena terjadi defek fase luteal,” ujar dr. Niken.Defek fase luteal berkaitan dengan ketidakcukupan hormon progesteron yang berperan penting dalam mempertahankan kehamilan.Baca juga: Jarang Berhubungan Intim Bisa Picu Gangguan HormonDr. Niken menjelaskan, defek fase luteal terjadi ketika tubuh tidak mampu memproduksi hormon progesteron dalam jumlah yang cukup.“Defek fase luteal adalah ketidakmampuan tubuh untuk memproduksi hormon progesteron, di mana hormon tersebut seperti pupuk supaya endometrium-nya atau tempat si bayi nempel itu menjadi gembur,” jelasnya.Ketika hormon progesteron tidak mencukupi, lapisan endometrium menjadi kurang optimal sebagai tempat menempelnya embrio. Kondisi ini membuat kehamilan sulit bertahan. Dokter pun harus memberikan obat-obatan penguat.Baca juga: Waspadai 5 Dampak Stres pada Ibu Hamil, Salah Satunya Risiko Kelahiran PrematurRisiko PCOS tidak berhenti pada awal kehamilan. Menurut dia, perempuan dengan PCOS juga memiliki kemungkinan mengalami komplikasi di trimester ketiga.
(prf/ega)
Waspadai 7 Risiko PCOS terhadap Kehamilan, Ini Penjelasan Dokter
2026-01-12 05:58:31
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 05:51
| 2026-01-12 05:18
| 2026-01-12 05:14
| 2026-01-12 04:26
| 2026-01-12 04:02










































