Sopir Truk Sampah Terjebak Antrean 6 Jam di TPST Bantargebang Setiap Hari

2026-01-11 23:14:42
Sopir Truk Sampah Terjebak Antrean 6 Jam di TPST Bantargebang Setiap Hari
JAKARTA, - Sopir truk pengangkut sampah dari Jakarta ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang menghabiskan waktu lebih dari enam jam hanya untuk antre bongkar muat sampah setiap harinya.Sebelumnya, mereka juga harus menjemput sampah dari pagi buta selama kurang lebih lima jam.“Dari pagi jam 05.00 WIB, lintas kecamatan sampai jam 10, jam 11, buang satu jam perjalanan. Di sana ngantre lagi 7-8 jam. Balik lagi ke sini,” kata seorang sopir truk sampah, Fauzan (bukan nama sebenarnya), saat ditemui di Jakarta Selatan, Minggu .Fauzan menyebutkan jam kerja ini melebihi waktu yang ditetapkan dalam kontrak mereka sebagai anggota penyedia jasa lainnya perorangan (PJLP) yang seharusnya delapan jam.“Sedangkan di kontrak kami kan tertulis hanya 8 jam. Kami ini kontrak. Para pengemudi ini rata-rata semua kontrak PJLP,” kata dia.Baca juga: Kerja Lembur Berhari-hari, Sopir Truk Sampah Jaksel Meninggal DuniaLamanya jam kerja ini disebabkan oleh kondisi TPST Bantargebang yang dinilai sudah tidak layak menampung sampah Jakarta.Zona pembuangan yang padat membuat permukaan jalan tertekan dan tidak rata, serta area zona buangan menjadi tidak stabil.“Titik buang atau yang disebut zona buang ini juga sudah tidak memadai. Ya kalau kita bicara secara gambaran untuk TPST kan Bantargebang itu sudah tidak layak untuk menampung semua sampah Jakarta,” tutur Fauzan.Selain itu, faktor cuaca memperlambat proses pembuangan, sementara truk sampah terus silih berganti masuk ke TPST.Baca juga: 4 Penyakit Utama yang Kini Menyerang Pengungsi Banjir Sumatera“Sehingga kendaraan yang datang kan setiap 10 menit datang, sedangkan yang dibongkar ini lama. Itu salah satunya faktor cuaca, faktor kondisi jalan juga faktor kondisi zona buangnya,” jelas Fauzan.Setiap hari, sekitar 7.000 ton sampah warga Jakarta diangkut ke Bantargebang, namun 1.000 hingga 2.000 ton baru bisa diolah menjadi kompos dalam kurun waktu berbulan-bulan.“Sedangkan ini (sampah masuk) tiap hari, jadi jomplang antara yang masuk sama yang terolah makanya akhirnya permasalahan di titik zona itu,” ujar Fauzan.Kondisi jalan menuju Zona 4 bahkan terdorong ke atas oleh gunungan sampah yang terus ditekan ke bawah. Sopir truk mengaku kendaraan sering terguling karena permukaan jalan yang labil.Baca juga: Gegara Aplikasi Maps, Jalan Sempit di Sawangan Depok Banyak Dilintasi Mobil hingga Jeblos“Karena jalan itu bukannya coran, jadi emang permukaannya sangat labil sebenarnya. Makanya kalau hujan itu udah enggak bisa nanjak mobil itu kebalik ya. Makanya sering mobil itu kebalik,” kata sopir truk lain, Candra.Akibat lamanya waktu tunggu, penjemputan sampah, serta pengembalian unit truk ke pos, seorang sopir truk, Yudi (51), meninggal dunia.


(prf/ega)