TINGKAT Pengangguran Terbuka (TPT) nasional yang dirilis BPS per Agustus 2025, memberikan angka menyejukkan, "hanya" 4,85 persen. Capaian yang sering dijadikan bahan bakar optimisme di kancah makroekonomi.Namun, di balik angka sehat itu, tersembunyi alarm bagi dunia pendidikan, khususnya pendidikan tinggi.Bank Dunia, dalam laporan terbarunya tentang Asia Timur dan Pasifik (EAP) Oktober 2025, membunyikan sirene krisis yang spesifik. Satu dari tujuh orang muda di Indonesia dan China tidak memiliki pekerjaan.Data BPS mengonfirmasi temuan ini. TPT untuk kelompok usia 15–24 tahun, per Agustus 2025 melonjak ke angka tertinggi: 16,89 persen.Ini menjadi paradoks yang saat ini nyata kita hadapi. Secara makro, pemerintah dan para ekonom mengumumkan keberhasilan menekan pengangguran dan menjaga pertumbuhan positif.Namun, di akar rumput, terutama di platform media sosial, kita dibanjiri keluhan generasi muda tentang sulitnya mendapatkan pekerjaan, betapa berbelitnya proses rekrutmen, hingga minimnya upah yang ditawarkan.Banyak lulusan S1 "terpaksa" menerima pekerjaan dengan kerjaan dan gaji di luar standar lulusan.Inilah alasan utama mengapa optimisme angka pertumbuhan terasa hambar di telinga masyarakat karena distribusi pekerjaan tercipta tidak merata dan tidak berkualitas.Baca juga: Kabur Aja Dulu, Indonesia Gelap, dan Kegelisahan Gen Z KitaKrisis ini jauh melampaui statistik total 4,85 persen. Ini adalah krisis struktural yang mengancam. Jika tidak segera ditangani dengan baik, maka dapat mengubah bonus demografi menjadi bencana demografi.Mengapa generasi muda, kelompok usia paling produktif dan terdidik, justru menjadi korban utama pasar kerja?DOK. BPS Tangkapan layar angka pengangguran terbuka BPS 2025.Bank Dunia menunjuk langsung pada dua hal faktor penyebab utama: stagnasi sektor manufaktur dan rendahnya daya serap perusahaan.Selama tiga puluh tahun, pangsa tenaga kerja di sektor manufaktur di Indonesia hampir tidak bergerak. Padahal manufaktur adalah mesin historis yang menciptakan pekerjaan formal dan berkontribusi signifikan pada peningkatan produktivitas.Kegagalan ini diperburuk rendahnya respons perusahaan dalam menyerap tenaga kerja.Laporan tersebut mencatat bahwa meskipun produktivitas perusahaan di Indonesia meningkat dua kali lipat, penciptaan lapangan kerja hanya tumbuh sekitar 3 hingga 8 persen.Artinya, perusahaan bisa tumbuh dan menjadi lebih efisien tanpa harus memperkerjakan lebih banyak orang, atau bahkan tanpa menawarkan pekerjaan dengan kualitas upah yang layak.
(prf/ega)
Alarm Akhir 2025: Satu dari Tujuh Anak Muda Pengangguran
2026-01-11 23:15:32
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-11 23:11
| 2026-01-11 22:24
| 2026-01-11 22:03
| 2026-01-11 21:43










































