- Jejak Lee Kuan Yew sebagai arsitek utama kemajuan Singapura modern tak hanya tercatat dalam buku sejarah dan kebijakannya. Sejumlah gagasan besar yang mengubah arah negeri itu justru berawal dari sebuah rumah sederhana di 38 Oxley Road.Kini, rumah tersebut resmi menyandang status sebagai monumen nasional. Penetapan berlaku sejak 13 Desember, menyusul terbitnya perintah pelestarian dalam Lembaran Negara (Government Gazette) sehari sebelumnya.Bangunan yang dimaksud merupakan bungalow satu lantai peninggalan era pra-Perang Dunia II. Di rumah inilah Lee Kuan Yew menetap sejak pertengahan 1940-an hingga akhir hayatnya pada 2015.Bagi publik Singapura, alamat 38 Oxley Road memiliki banyak kesan mendalam dan sejarah yang tak terlupakan.Pada awal 1950-an, ruang makan bawah tanah di bungalow tersebut kerap menjadi tempat berkumpulnya Lee Kuan Yew bersama tokoh-tokoh yang kelak dikenal sebagai para pendiri bangsa.Baca juga: Profil Grup Wilmar, Raksasa Sawit RI tapi Kantor Pusatnya di SingapuraMengutip Straits Times, pertemuan-pertemuan itu dihadiri oleh sejumlah nama penting seperti Goh Keng Swee, Toh Chin Chye, S. Rajaratnam, hingga K. M. Byrne.Dari diskusi yang berlangsung secara informal itulah muncul gagasan pembentukan Partai Aksi Rakyat atau People’s Action Party (PAP). Partai ini kemudian memenangkan pemilu 1959 dan membentuk pemerintahan pertama Singapura yang sepenuhnya berdaulat.Tak heran jika para sejarawan menilai rumah Lee Kuan Yew sebagai saksi bisu fase krusial perjalanan Singapura, dari wilayah koloni Inggris, menjadi bagian dari Malaysia, hingga menjadi negara merdeka.Meski demikian, keputusan melestarikan 38 Oxley Road tidak berjalan mulus. Lee Hsien Yang, putra bungsu Lee Kuan Yew sekaligus pemilik properti, menyampaikan keberatan tertulis pada November lalu.Ia menegaskan bahwa ayahnya secara "jelas dan tegas" menghendaki rumah tersebut diruntuhkan setelah wafat.Namun, pemerintah Singapura melalui Kementerian Kebudayaan, Komunitas, dan Pemuda (MCCY) bersama Dewan Warisan Nasional (NHB) menilai keberatan tersebut tidak menghapus nilai historis yang melekat pada situs itu.Baca juga: Jakarta Kalahkan Singapura dan Tokyo soal Biaya Konstruksi Data CenterLaporan komite menteri pada 2018 juga mencatat bahwa meski Lee Kuan Yew secara pribadi cenderung memilih pembongkaran, ia membuka kemungkinan opsi lain selama privasi keluarga tetap dijaga.Keputusan akhir untuk melanjutkan pelestarian diambil oleh Menteri Kebudayaan sementara, David Neo, setelah mempertimbangkan rekomendasi Dewan Penasihat Pelestarian Situs dan Monumen (PSM).PSM menilai rumah di 38 Oxley Road memiliki "sejarah nasional yang kuat" karena menjadi lokasi lahirnya diskusi dan keputusan penting yang menentukan arah perjuangan kemerdekaan Singapura.Pemerintah menegaskan, pelestarian tidak berarti mempertahankan seluruh bangunan secara utuh. Berbagai opsi masih akan dikaji, termasuk kemungkinan hanya menjaga ruang makan bawah tanah yang menjadi pusat aktivitas politik para pendiri negara.Sebagai bentuk penghormatan terhadap Lee Kuan Yew, pemerintah juga berkomitmen mengeluarkan ruang-ruang hunian pribadi dari interior bangunan demi melindungi privasi keluarga.MCCY dan NHB menilai 38 Oxley Road sebagai bagian penting merawat ingatan sejarah Singapura."Melestarikan situs ini akan memungkinkan generasi Singapura kini dan mendatang untuk merenungkan peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah nasional, serta nilai-nilai yang membentuk negara ini," demikian pernyataan resmi pemerintah.Sebuah kiriman dibagikan oleh gov.sg (@gov.sg)Baca juga: Mengapa CPF Singapura Diterima Sementara Tapera Indonesia Ditolak?
(prf/ega)
Kisah Rumah Warisan Lee Kuan Yew dan Wasiat yang Diabaikan
2026-01-12 04:48:37
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 04:49
| 2026-01-12 04:18
| 2026-01-12 03:51
| 2026-01-12 02:52










































