Transformasi Bata, Warisan 90 Tahun yang Ditata Ulang untuk Generasi Baru

2026-01-12 04:35:06
Transformasi Bata, Warisan 90 Tahun yang Ditata Ulang untuk Generasi Baru
JAKARTA, — Di ruang pertemuan kantor pusat PT Sepatu Bata Tbk atau Bata Indonesia di Jakarta Selatan, Panos Mytaros duduk dengan ekspresi hangat nan tegas. Kunjungan perdananya sebagai Global Chief Executive Officer (CEO) Bata Group bukan sekadar pertemuan formal. Ia datang dengan semangat yang jelas bahwa Bata tengah memasuki babak baru yang lebih modern, lebih fokus, dan lebih dekat dengan konsumen Indonesia.“Bata selalu terkait dengan orang Indonesia sebagai perusahaan sepatu. Banyak anak tumbuh bersama Bata. Kami bahkan sering berkata, ‘pertama ke Bata dulu, baru pergi ke sekolah’,” katanya membuka sesi wawancara eksklusif bersama Kompas.com, Rabu .Baginya, hubungan Bata dengan Indonesia bukan hanya nostalgia selama lebih dari 90 tahun, melainkan fondasi kuat untuk tumbuh lebih besar.Berdiri sejak 1931, Bata menjadi salah satu pemain besar di industri ritel alas kaki Indonesia. Laporan Tahunan dan Laporan Keberlanjutan Bata Indonesia 2024 mencatat, hingga akhir 2024, Bata mengoperasikan 242 toko aktif di seluruh Indonesia. Jaringan ini tetap kuat meski telah melalui restrukturisasi besar pada periode tersebut.Baca juga: Tak Lagi Produksi Sepatu, Bata Memilih Perkuat E-commerceDengan posisi tersebut, Panos mengatakan, Indonesia menjadi salah satu pasar paling penting bagi Bata.“Bata juga akan (tetap) menjadi bagian penting bagi Indonesia karena kami ingin kembali menjangkau konsumen yang selama ini kami punya dan menambah lebih banyak lagi,” ungkapnya. Bata melalui 2024 dengan banyak perubahan besar. Diberitakan Kompas.com, Kamis , Bata resmi menghapuskan kegiatan usaha industri alas kaki untuk kebutuhan sehari-hari sesuai keputusan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa yang digelar pada 25 September 2025.Bata sendiri telah lebih dulu menutup operasional pabrik sepatunya di Purwakarta, Jawa Barat, sejak Selasa . Panos mengatakan, keputusan itu tidak mudah bagi perusahaan sekelas Bata.“Menutup pabrik itu selalu menyakitkan. Akan tetapi (langkah) itu diperlukan (perusahaan), karena berkaitan dengan kemampuan yang kami miliki dan fokus kami sebagai Bata,” tuturnya. Laporan tahunan menjelaskan sejumlah alasan dibalik keputusan tersebut, yaitu permintaan terhadap jenis produk yang dibuat pabrik terus menurun, kapasitas produksi pabrik jauh melebihi kebutuhan yang bisa diperoleh secara berkelanjutan dari pemasok lokal di Indonesia, serta model produksi lebih efisien jika dialihkan ke pemasok lokal.Baca juga: Sepatu Bata (BATA) Resmi Hapus Bisnis Produksi SepatuBata juga menutup atau berencana menutup lebih dari 200 toko merugi pada 2024 sebagai bagian dari perbaikan jaringan retail nasional. Restrukturisasi ini adalah bagian dari biaya restrukturisasi sebesar Rp 124,08 miliar pada 2024.Namun, Panos menegaskan bahwa transformasi itu bukan kemunduran, melainkan strategi untuk memperkuat Bata ke depan.“Walaupun kami tidak punya pabrik sendiri, kami akan lebih banyak bekerja sama dengan pabrik di Indonesia. Sepatu Bata tetap akan dibuat di Indonesia,” tegasnya.Terbukti, produksi sepatu hingga Mei 2024 mencapai 447.902 pasang. Hal ini menunjukkan bahwa rantai produksi tetap berjalan kuat melalui mitra lokal.Transformasi besar pada 2024 membawa perbaikan angka. Laporan tahunan mencatat penjualan bersih Bata pada 2024 mencapai Rp 459,98 miliar dengan laba bruto Rp 197,15 miliar. Sementara itu, kerugian tahun berjalan membaik dari rugi Rp 190,56 miliar pada 2023 menjadi rugi Rp 148,17 miliar pada 2024. Di tengah banyaknya brand internasional masuk ke Indonesia, Panos menyebut satu hal yang tidak berubah dari DNA Bata adalah “Democratic Design”.“Bata selalu memiliki desain yang bagus. Kami menyebutnya democratic design shoe atau sepatu dengan desain baik yang tersedia untuk semua orang,” jelasnya. Posisi Bata tergolong unik karena Bata bukan merek super-elit, tetapi bukan juga mass-market tanpa arah. Bata memposisikan dirinya di tengah agar tetap terjangkau, berkualitas, dan dekat dengan kebutuhan masyarakat luas.Baca juga: Setelah 93 Tahun, Sepatu Bata Akhiri Produksi Alas Kaki di IndonesiaNamun, Panos mengakui bahwa kurasi produk yang dihadirkan perlu diperbaiki.“Kalau kamu menawarkan terlalu banyak, sebenarnya kamu tidak menawarkan apa-apa di saat yang sama,” katanya.Oleh karena itu, Bata berencana menyederhanakan lini produk sehingga konsumen langsung paham siapa Bata dan sepatu apa yang menjadi kekuatan utamanya.Sejarah lebih dari 90 tahun Bata di Indonesia menyimpan banyak model ikonik, termasuk sepatu-sepatu yang familiar bagi banyak keluarga. Sayangnya, ikon-ikon itu kini tidak lagi terlihat di pasaran.“Kami ingin membawa kembali beberapa ikon kami. Akan tetapi, bukan kami hadirkan kembali begitu saja. Ikon itu harus kami modernisasi agar relevan bagi konsumen hari ini,” ujar Panos./Anissa Dea Widiarini Global Chief Executive Officer (CEO) Bata Group Panos Mytaros dalam kunjungannya ke Kantor Bata Indonesia di Jakarta, Rabu .


(prf/ega)