Menjalin Kembali Akar Budaya Pasifik dari Kupang bersama 13 Negara

2026-01-12 06:26:43
Menjalin Kembali Akar Budaya Pasifik dari Kupang bersama 13 Negara
KUPANG, — Di bawah langit Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang menggelantung mega hitam, denting musik bambu beriringan dengan Sasando serta irama gendang tradisional terdengar berpadu dari berbagai penjuru Nusantara dan Pasifik.Para penari dari Fiji, Tonga, Papua Nugini, hingga tuan rumah Indonesia menari bersama, seolah tak ada sekat yang memisahkan mereka.Inilah semangat yang dihidupkan melalui Indonesia Pacific Cultural Synergy (IPACS) 2025, sebuah perayaan besar yang mempertemukan 13 negara Pasifik di Nusa Tenggara Timur (NTT).Ajang yang digelar selama lebih dari 10 hari ini bukan sekadar pertunjukan budaya.Baca juga: Pemkot Kupang Dapat Penghargaan Cita Daerah Damai dan Inklusif, Wali Kota Christian Buka SuaraIni menjadi jembatan sejarah dan kultural antara Indonesia dan negara-negara di kawasan Pasifik—wilayah yang sesungguhnya memiliki akar leluhur yang sama.Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, dalam sambutannya menegaskan bahwa IPACS adalah langkah awal menuju kolaborasi budaya yang selama ini belum pernah dilakukan.“Kita bekerja sama dengan negara-negara Pasifik untuk menciptakan kolaborasi yang sinergis. Ada 13 negara yang hadir dalam kegiatan ini. Mereka merupakan keluarga besar Pasifik, dan Indonesia juga bagian dari itu,” ujarnya di Kupang, Senin .Menurut Fadli, wilayah timur Indonesia seperti NTT, Maluku, Maluku Utara, dan Papua memiliki kedekatan historis dan kultural yang kuat dengan masyarakat Melanesia.Banyak leluhur dari wilayah ini bermigrasi ke berbagai pulau di Pasifik ribuan tahun silam, meninggalkan jejak bahasa, musik, dan simbol budaya yang masih terasa hingga kini.“Selama ini kita belum pernah memiliki kerja sama budaya dengan negara-negara Pasifik, padahal secara historis kita merupakan nenek moyang mereka,” tambahnya.Baca juga: Live TikTok Saat Jam Kerja dan Lakukan Pelanggaran Lain, 4 Polisi di Kupang DihukumIPACS 2025 menghadirkan pengalaman lintas budaya yang hidup.Para seniman muda dari berbagai negara mengikuti residensi budaya di NTT, belajar membuat karya seni berbasis material lokal seperti bambu dan serat lontar, serta berkolaborasi dalam musik tradisional dan pertunjukan tari.Di sela-sela festival, digelar pula dialog budaya yang mempertemukan para menteri kebudayaan dari kawasan Asia Pasifik.Mereka membahas arah kerja sama budaya, pertukaran pelajar seni dan peluang riset bersama di bidang maritim dan warisan budaya.Salah satu yang menarik perhatian adalah kehadiran delegasi dari New Caledonia, wilayah yang memiliki banyak warga keturunan Indonesia.


(prf/ega)