Menuju Pendidikan Digital, Kesehatan Mental Jadi Harga yang Harus Dibayar

2026-01-12 13:42:39
Menuju Pendidikan Digital, Kesehatan Mental Jadi Harga yang Harus Dibayar
JAKARTA, - Ada harga yang harus dibayar dalam mewujudkan pendidikan digital: Kesehatan mental anak.Transformasi digital dalam dunia pendidikan membawa harapan besar akan akses belajar yang lebih luas, materi yang lebih interaktif, serta peluang pengembangan diri yang tidak dibatasi ruang dan waktu.Gadget, platform belajar daring, hingga kecerdasan buatan kini menjadi bagian dari ruang kelas modern.Namun, di balik kemudahan dan inovasi tersebut, ada dinamika baru yang turut membentuk pola pikir, emosi, dan perilaku anak.Baca juga: Melacak Sebab Turunnya Minat Anak Muda untuk Jadi GuruPerubahan cepat ini tidak hanya menuntut adaptasi akademik, tetapi juga kesiapan psikologis.Anak-anak yang tumbuh di era digital menghadapi paparan konten tanpa batas, tekanan sosial dari media, serta pola interaksi yang semakin minim kontak emosional langsung.Hal-hal tersebut dapat memengaruhi perkembangan emosi, empati, hingga kemampuan mengelola stres.Akibatnya, di tengah kemajuan teknologi, muncul tantangan baru berupa kesehatan mental si anak, meliputi gejala agresivitas, kecemasan, dan perilaku impulsif pada sebagian anak.Ketika proses belajar berubah drastis mengikuti perkembangan teknologi, anak-anak ikut membawa beban adaptasi yang besar.Tanpa pendampingan yang tepat dari guru, orang tua, dan sekolah, transformasi digital yang seharusnya menjadi peluang justru dapat menyisakan dampak emosional yang panjang.Ekses kesehatan mental anak tentu harus dibayar dengan solusi dan mitigasi yang jitu.Baca juga: Konten Sosmed Bisa Bikin Anak Jadi Agresif?Dilansir tulisan ilmiah berjudul Pengaruh Penggunaan Teknologi Pembelajaran terhadap Prestasi Belajar Siswa di Sekolah Menengah (2023) karya Hilda Nathaniela dan Nadya Saphira, penggunaan teknologi pembelajaran memberikan dampak yang signifikan terhadap proses pembelajaran dan prestasi belajar siswa.Namun, ada juga dampak negatif seperti potensi kecanduan digital, distraksi, kesenjangan akses di daerah terpencil, serta potensi berkurangnya apresiasi terhadap nilai kearifan lokal jika tidak diintegrasikan dengan baikPsikolog dari Universitas Indonesia, A Kasandra Putranto, mengatakan dampak negatif berupa kecanduan digital dapat mempengaruhi perkembangan otak dan kondisi psikologis remaja."Hasil penelitian yang dilakukan oleh pusat pemetaan otak UCLA 2016, mereka menemukan bahwa daerah tertentu dari otak remaja menjadi lebih aktif karena media sosial, sehingga menyebabkan mereka ingin menggunakan media sosial lebih banyak," kata Kasandra mengutip ANTARA.Baca juga: Bullying dan Kesehatan Mental Anak Jadi Kekhawatiran Orangtua, Ini Saran Pakar Keluarga


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#5

Sementara Samsung Music Studio 5 hadir dengan ukuran lebih ringkas. Speaker ini ditujukan bagi pengguna yang menginginkan kualitas audio mumpuni tanpa mengganggu tampilan ruangan. Music Studio 5 mendukung koneksi WiFi dan Bluetooth, layanan streaming, serta kontrol suara.Kedua speaker WiFi Music Studio juga dirancang agar mudah diintegrasikan dengan soundbar dan TV Samsung, sebagai bagian dari ekosistem audio terpadu.Samsung juga meningkatkan teknologi Q-Symphony, yang memungkinkan TV, soundbar, dan speaker WiFi bekerja sebagai satu sistem audio. Pengguna dapat menghubungkan hingga lima perangkat audio sekaligus, dengan sistem yang menyesuaikan suara berdasarkan tata letak ruangan.Selain itu, Samsung juga memperkenalkan jajaran ekosistem audio terbaru mereka dari lini soundbar Q Series.Selama lebih dari satu dekade, Samsung telah membentuk evolusi audio rumah melalui teknologi akustik canggih, fitur cerdas, dan desain yang dipikirkan secara matang, ungkap Hun Lee, Executive Vice President Visual Display Business Samsung Electronics, dikutip KompasTekno dari halaman resmi Samsung. Kami melanjutkan warisan tersebut dengan perangkat audio generasi terbaru yang dirancang untuk menghadirkan performa suara yang kaya dan ekspresif di setiap ruang dan momen, lanjut dia. Salah satu produk utama dalam ekosistem audio terbaru ini adalah soundbar flagship HW-Q990H.Baca juga: Ketika HP Lipat Tiga Samsung Galaxy Z TriFold Dibuka-Tutup Barbar 200.000 Kali...Soundbar ini hadir dengan sistem 11.1.4-channel yang menggabungkan soundbar utama, speaker belakang, dan subwoofer aktif. Samsung juga menambahkan teknologi Sound Elevation agar terdengar lebih natural, serta fitur Auto Volume untuk menjaga konsistensi suara di berbagai jenis konten.Soundbar ini juga dibekali fitur berbasis AI untuk memperluas bidang suara. Lewat fitur ini, Samsung mengeklaim pengalaman audio yang dihadirkan setara dengan sistem home theater profesional, tetapi tetap ringkas untuk penggunaan di rumah.Selain itu, Samsung memperkenalkan All-in-One Soundbar HW-QS90H. Soundbar ini bisa dipasang di dinding atau diletakkan di atas meja. Sensor di dalamnya akan menyesuaikan arah suara secara otomatis sesuai posisi perangkat. Dengan sistem 7.1.2-channel dan 13 speaker, soundbar ini mampu menghasilkan bass yang dalam tanpa perlu subwoofer tambahan.

| 2026-01-12 11:37