Kremasi Hewan dan Perubahan Cara Kota Memandang Kehilangan

2026-01-12 15:39:16
Kremasi Hewan dan Perubahan Cara Kota Memandang Kehilangan
BOGOR, — Di tengah hiruk-pikuk kehidupan perkotaan, muncul sebuah layanan yang beberapa tahun lalu mungkin terdengar asing bagi sebagian masyarakat: kremasi hewan peliharaan.Kehadiran layanan ini menandai perubahan cara pandang masyarakat urban terhadap hewan, yang kini tidak lagi diposisikan sekadar sebagai peliharaan, melainkan bagian dari keluarga.Fenomena tersebut meluas seiring pergeseran nilai, terutama di kalangan kelas menengah dan menengah atas, yang memandang hewan sebagai subjek relasi emosional. Kremasi menjadi ritual perpisahan yang memberi ruang penghormatan, rasa hormat, sekaligus pelepasan duka bagi pemiliknya.Baca juga: Menelisik Prosesi Kremasi Hewan di Rainbow Bridge House MemorialPerubahan pola pikir ini tidak hanya mencerminkan transformasi gaya hidup, tetapi juga menunjukkan lahirnya hubungan emosional yang lebih dalam antara manusia dan hewan.Fenomena yang tampak sederhana ini sejatinya menunjuk pada perubahan budaya yang lebih besar, yakni kesadaran bahwa hewan layak dirawat, dihormati, dan dilepas secara bermartabat.Sosiolog Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Rakhmat Hidayat, menyebutkan, layanan kremasi hewan sebagai praktik yang relatif baru dan menjadi penanda pergeseran mentalitas masyarakat perkotaan.“Fenomena jasa kremasi hewan ini memang unik ya. Dan menurut saya masih relatif baru gitu ya dalam kehidupan masyarakat perkotaan," kata Rakhmat saat dihubungi, Selasa .Bagi sebagian orang, hewan peliharaan bukan sekadar binatang yang diberi makan dan dirawat. Mereka hadir sebagai bagian dari ritme harian—disapa setiap pagi, menemani di ruang tamu, dan menyambut ketika pintu rumah dibuka.Dalam kehidupan perkotaan yang serba cepat, hubungan manusia dan hewan justru menjadi semakin intens dan intim. Tidak jarang, hewan menjadi tempat melepas lelah, tempat bercerita tanpa takut dihakimi, atau sekadar pengisi keheningan rumah yang terasa terlalu luas.Baca juga: Rumah Kremasi Hewan, Tempat Tidur Terakhir Peliharaan KesayanganIkatan inilah yang membuat kepergian hewan peliharaan meninggalkan luka emosional yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Rakhmat menyebutkan, hubungan tersebut berakar dari keterhubungan psikologis dan interaksi yang terbangun selama bertahun-tahun.“Kenapa hewan itu orang perlu ditangisi sih? Karena itu kan ada semacam keterikatan ya, keterikatan moral, keterikatan secara psikologis antara manusia tersebut dengan hewan tersebut gitu kan,” ujarnya.Ikatan itu, menurut dia, semakin kuat seiring rutinitas yang dijalani bersama.“Apalagi udah bertahun-tahun, sudah jadi sering bareng," kata dia.Di kota-kota besar, ruang hunian kian terbatas, sementara perhatian pemilik terhadap hewan peliharaan justru meningkat. Kondisi ini memunculkan kebutuhan baru, salah satunya layanan kremasi hewan. Rakhmat menilai, fenomena ini relatif baru hadir sebagai kebutuhan masyarakat kelas menengah perkotaan.Dalam beberapa tahun terakhir, terutama setelah pandemi Covid-19, industri perawatan hewan berkembang pesat. Tidak hanya pet shop yang menjamur, tetapi juga berbagai layanan pendukung yang sebelumnya jarang ditemui.Rakhmat melihat perkembangan tersebut sebagai bagian dari perubahan kultur merawat hewan secara lebih serius.“Nah, layanan kremasi ini menurut saya itu melengkapi bagaimana peliharaan hewan itu menjadi isu yang menarik bagi sebagian masyarakat atau bagi masyarakat menengah perkotaan gitu ya," ujar dia.Baca juga: Suka Duka Agus Petugas Krematorium, Bercucuran Peluh Saat Kremasi Banyak Jenazah Pakai APD Lengkap...Menurut dia, kehadiran layanan ini menunjukkan munculnya perilaku baru di kalangan kelas menengah perkotaan yang memiliki perhatian lebih besar terhadap kesejahteraan hewan.“Ini sudah mulai menunjukkan ada tren yang lebih spesifik di kalangan kelas menengah elit perkotaan gitu kan dengan layanan kremasi ini gitu,” kata dia.


(prf/ega)