110 KK di Nagan Raya Aceh Masih Terisolasi Akibat Jembatan Putus Dihantam Banjir Bandang

2026-02-07 12:53:06
110 KK di Nagan Raya Aceh Masih Terisolasi Akibat Jembatan Putus Dihantam Banjir Bandang
- Sebanyak 110 kepala keluarga (KK) di Desa Gunong Kong, Kecamatan Darul Makmur, Kabupaten Nagan Raya, Aceh, hingga Minggu masih terisolasi usai jembatan rangka baja yang menjadi akses utama warga hancur diterjang banjir bandang pekan lalu.“Saat ini akses transportasi masyarakat masih terputus, banyak warga terkurung akibat putusnya jembatan,” kata Kepala BPBD Nagan Raya, Irfanda Rinaldi.Jembatan yang runtuh tersebut memiliki bentang sekitar 120 meter dengan lebar 5–6 meter. Selama ini, jembatan itu menjadi satu-satunya akses warga menuju pusat kecamatan dan ibu kota kabupaten.Baca juga: Bupati Nagan Raya Angkat Tangan, Bantuan Pemerintah Pusat Tak Kunjung DatangDengan putusnya jembatan, warga kini terpaksa menggunakan perahu mesin untuk keluar desa dan memenuhi kebutuhan sehari-hari.Kendati terisolasi, BPBD Nagan Raya memastikan bantuan tetap disalurkan.“Kami telah mendistribusikan aneka bantuan kepada 110 KK di Desa Gunong Kong, sehingga masyarakat tidak kekurangan pasokan bahan pokok,” ujarnya.BPBD juga terus menyalurkan bantuan ke sejumlah titik terdampak banjir bandang lainnya selama masa tanggap darurat.Pemerintah Kabupaten Nagan Raya sebelumnya mencatat sebanyak 1.807 rumah di tiga kecamatan rusak akibat banjir bandang. Kerusakan tersebut meliputi:Tak hanya merusak permukiman warga, banjir bandang dan banjir luapan juga memaksa 8.440 jiwa (2.510 KK) untuk mengungsi.“Jumlah pengungsi terbanyak berada di Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang dengan 2.156 jiwa atau 714 KK,” kata Irfanda Rinaldi.Baca juga: Bupati Nagan Raya Aceh: Sepekan Kami Belum Terima Bantuan dari Pusat, Kami Sangat BerharapBerikut data sebaran pengungsi dari BPBD Nagan Raya:Kecamatan Beutong Ateuh BanggalangKecamatan Darul MakmurKecamatan Tripa Makmur“Di Kecamatan Tadu Raya tidak ada warga yang mengungsi,” tambah Irfanda.Baca juga: Nagan Raya Aceh Belum Dapat Satu Pun Bantuan Pusat, Anggaran Daerah Tak Mampu Tangani Dampak Banjir


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-02-07 12:00