Tanggapi Jokowi, Pakar Ekonomi: Proyek Whoosh Sebagai Investasi Sosial Tidak Bisa Jadi Pembenaran

2026-01-14 15:29:05
Tanggapi Jokowi, Pakar Ekonomi: Proyek Whoosh Sebagai Investasi Sosial Tidak Bisa Jadi Pembenaran
SURABAYA, - Pakar ekonomi dari Universitas Airlangga (Unair) Surabaya menyoroti pernyataan mantan Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) yang akhir-akhir ini menjadi sorotan publik.Jokowi menegaskan bahwa Kereta Cepat Jakarta–Bandung (KCJB) atau Whoosh dibangun bukan untuk mencari keuntungan finansial, melainkan sebagai investasi sosial bagi masyarakat.Dosen Departemen Ilmu Ekonomi dari Unair, Rumayya, PhD mengatakan bahwa Whoosh memang bukan proyek komersial biasa karena manfaatnya mencakup peningkatan konektivitas, efisiensi waktu tempuh, serta transfer teknologi dan keahlian."Namun, label ‘investasi sosial’ tidak dapat menjadi pembenaran,” kata Rumayya saat dihubungi Kompas.com, Rabu .Baca juga: Beban Hutang Kereta Cepat Whoosh Berisiko Turunkan Layanan PT KAIIa menjelaskan bahwa biaya proyek Whoosh sangatlah tinggi dengan total investasi mencapai sekitar 7,3 miliar dolar AS untuk jarak kurang lebih 142 kilometer.Artinya, per kilometernya memakan biaya sekitar 51 juta dolar AS, yang mana menjadi salah satu proyek kereta cepat termahal di dunia.“Untuk perbandingan, biaya per kilometer kereta cepat di China sekitar 22 juta dolar AS, di India sekitar 39 juta dolar AS. Padahal GDP (Produk Domestik Bruto) per kapita Indonesia jauh lebih rendah," kata dia.Hal tersebut berarti beban fiskal yang harus ditanggung Indonesia relatif jauh lebih berat.Selain itu, adanya produktivitas konstruksi yang rendah sebab dibutuhkan lebih banyak pekerja dan waktu per kilometer dibandingkan proyek kereta cepat negara lain.Baca juga: KPK Didorong Usut Dugaan Mark Up Proyek Kereta Cepat WhooshMenurut proyeksi awal, Japan International Cooperation Agency (JICA) pada 2015 memprakirakan jumlah penumpang harian Whoosh mencapai diatas 50.000.Namun, realisasi operasional yang didapatkan hingga saat ini, penumpang harian Whoosh hanya sekitar 16.000 sampai 21.000 penumpang per harinya.“Ini artinya utilisasi masih jauh di bawah target awal, maka konsekuensinya semakin rendah pemanfaatan, semakin besar risiko proyek tidak bisa menutup biaya operasional dan utangnya. Hal ini memperbesar ketergantungan pada subsidi atau restrukturisasi utang,” jelasnya.Ia menuturkan, hingga saat ini juga belum tersedia dokumen publik yang menghitung secara terbuka net benefit dari proyek pembangunan Whoosh.“Tidak ada laporan resmi yang menunjukkan manfaat sosial secara kuantitatif dikurangi semua biaya sosial dan fiskal,” ujarnya.Baca juga: KPK Telaah Saksi yang Akan Diperiksa terkait Dugaan Mark Up Proyek Kereta Cepat WhooshMeskipun, lanjutnya, terdapat narasi umum mengenai efisiensi waktu, peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM), dan investasi regional, tapi belum ada laporan mengenai cost–benefit komprehensif yang dapat diuji publik.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Secara medis, luka dapat dibedakan berdasarkan seberapa dalam jaringan tubuh yang rusak.Luka superfisial adalah jenis luka yang hanya mengenai sebagian lapisan kulit, seperti goresan atau lecet. Luka jenis ini biasanya tidak terlalu dalam dan dapat sembuh dalam waktu cepat.“Luka superfisial itu yang terputus kontinuitasnya hanya sebagian lapisan kulit,” kata dr. Heri.Berbeda dengan luka superfisial, luka dalam biasanya menembus lapisan kulit hingga mengenai jaringan otot, bahkan tulang. Kondisi ini dapat menyebabkan perdarahan dan risiko infeksi yang lebih tinggi.Umumnya, luka dalam memerlukan penanganan medis segera karena proses penyembuhannya lebih kompleks dibanding luka ringan.“Kalau dia luka dalam, itu tembus dari kulit bisa sampai ke otot. Bahkan kalau traumanya berat, bisa sampai ke tulang,” lanjut dr. Heri.Baca juga: SHUTTERSTOCK/NONGASIMO Beda jenis luka, beda penyebab dan cara penyembuhannya. Memahami jenis luka penting agar penanganannya tepat, simak penjelasan dokter.Selain dari kedalamannya, luka juga dapat dikategorikan berdasarkan waktu penyembuhannya menjadi luka akut dan kronis.Menurut dr. Heri, luka akut adalah luka yang sembuh melalui proses alami tubuh dan biasanya pulih dalam waktu beberapa minggu.“Luka juga bisa diklasifikasikan menurut waktu sembuhnya, itu menjadi luka yang akut dan luka yang kronis,” ucap dr. Heri.“Luka yang akut itu adalah luka yang sembuh dengan proses alamiah, yang seharusnya dia bisa sembuh sekitar empat sampai delapan minggu,” tambahnya.Ketika penyembuhan tidak berjalan semestinya, kategori luka bisa berubah menjadi luka kronis, artinya luka yang mengalami proses sembuh lebih lama.“Kalau proses sembuhnya mengalami gangguan, dia akan menjadi suatu luka yang kronis, yang bisa sampai berminggu-minggu, berbulan-bulan, sampai bertahun-tahun,” ujar dr. Heri.Faktor yang bisa menyebabkan luka menjadi kronis antara lain infeksi, kekebalan tubuh, hingga penyakit penyerta seperti diabetes.

| 2026-01-14 16:08