PM Jepang-China Cuek-cuekan di KTT G20, Tak Saling Sapa

2026-01-12 04:37:56
PM Jepang-China Cuek-cuekan di KTT G20, Tak Saling Sapa
JOHANNESBURG, - Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi dan Perdana Menteri China Li Qiang tidak melakukan pertemuan maupun interaksi, selama berlangsungnya Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Afrika Selatan akhir pekan lalu.Situasi ini mencerminkan ketegangan yang kian memuncak antara Tokyo dan Beijing, menyusul pernyataan Takaichi terkait kemungkinan keterlibatan militer Jepang jika China menyerang Taiwan.Usai menghadiri KTT selama dua hari, Takaichi menegaskan bahwa tidak ada rencana pertemuan bilateral dengan Li Qiang.Baca juga: Awal Mula China-Jepang Bersitegang, Picu Krisis Keamanan di Asia Timur“Sejak saya menjabat sebagai perdana menteri, tekad Jepang untuk membangun hubungan yang saling menguntungkan, konstruktif, dan stabil tetap tidak berubah,” ujar Takaichi kepada wartawan, sebagaimana dikutip dari Antara.“Jepang terbuka untuk dialog di berbagai tingkat,” imbuhnya.Takaichi mengakui, terdapat sejumlah isu yang membebani hubungan bilateral dengan Beijing. Namun, ia menilai komunikasi tetap perlu dilakukan.“Justru karena ada kekhawatiran dan perbedaan, kita harus menguranginya, saling memahami, dan memperkuat kerja sama. Tentu saja, penting bagi Jepang untuk menyampaikan hal-hal yang perlu disampaikan kepada China,” lanjutnya.AP PHOTO/CHIANG YING-YING Foto pada 19 Januari 2021 memperlihatkan seorang tentara memegang bendera Taiwan dalam latihan militer untuk menangkal serangan China, di Hsinchu, utara Taiwan.Ketegangan antara Jepang dan China memanas sejak Takaichi menyampaikan pernyataan kontroversial di parlemen Jepang pada 7 November 2025.Saat itu, ia menyatakan bahwa jika terjadi serangan terhadap Taiwan, Jepang dapat mempertimbangkan langkah militer.Pernyataan tersebut ditafsirkan sebagai kemungkinan keterlibatan Pasukan Bela Diri Jepang dalam mendukung sekutu utama mereka, Amerika Serikat, apabila China memberlakukan blokade maritim atau bentuk tekanan militer lainnya terhadap Taiwan.Sebagai respons, China langsung mengeluarkan peringatan perjalanan ke Jepang dan kembali memberlakukan larangan impor produk laut asal Jepang.Baca juga: Makin Kisruh, China Kini Setop Impor Seafood dari JepangMenteri Luar Negeri China Wang Yi kemudian menyebutkan, pernyataan Takaichi mengirimkan "sinyal tersirat" terkait kesiapan Jepang melakukan intervensi militer atas isu Taiwan.Kementerian Luar Negeri China juga mengingatkan, ada garis merah yang tak boleh dilanggar terkait kedaulatan wilayah.Namun, Pemerintah Jepang menolak permintaan Beijing untuk menarik pernyataan tersebut.Tokyo menegaskan bahwa pernyataan Takaichi sesuai dengan posisi resmi Jepang yang telah lama diambil.Para pendahulu Takaichi di kursi perdana menteri juga kerap menyampaikan kekhawatiran atas meningkatnya tekanan China terhadap Taiwan.Akan tetapi, mereka tidak pernah secara eksplisit menyatakan sikap kemungkinan respons militer Jepang dalam skenario krisis tersebut.Hubungan Tokyo–Beijing selama ini memang kerap diliputi ketegangan, baik karena isu sejarah, perselisihan perbatasan, maupun berbagai persoalan strategis lainnya di kawasan Asia Timur.Baca juga: Alasan Sebenarnya China Sangat Murka ke PM Jepang soal TaiwanSumber: Kompas.com (Penulis: Danur Lambang Pristiandaru | Editor: Danur Lambang Pristiandaru)


(prf/ega)