JAKARTA, — Kerapian kawasan Monumen Nasional (Monas) kembali dipertanyakan setelah deretan pedagang kaki lima (PKL) dan pedagang asongan memenuhi akses masuk IRTI Monas, Jakarta Pusat.Di tengah gencarnya penataan oleh Pemprov DKI, kerumunan pedagang justru menjadi pemandangan yang kontras dengan wajah Monas yang semakin tertata.Deru kendaraan dari Jalan Medan Merdeka tak mampu meredam riuhnya suasana di pintu masuk Monas siang itu. Wisatawan datang silih berganti, ada yang membawa anak kecil berlari menuju gerbang, ada pula yang sibuk berfoto dengan latar Monumen Nasional.Baca juga: Potret Jalur Pedestrian Monas yang Berubah Jadi Ruang Dagang PKL Tanpa IzinNamun, di balik keriuhan itu, pemandangan lain langsung mencuri perhatian, yaitu pedagang asongan dan PKL yang memadati kiri-kanan jalur masuk. Meski beberapa tahun terakhir Monas terlihat lebih rapi, para pedagang tetap bermunculan—bertahan, berpindah, bahkan kucing-kucingan dengan petugas.Sejumlah wisatawan mengaku tidak keberatan dengan kehadiran pedagang, karena mereka merasa terbantu. Namun, mereka juga menilai kondisi pintu masuk menjadi semrawut.Rama (26) pekerja swasta yang datang bersama temannya dari Bandung, mengaku terkejut sekaligus bingung melihat pemandangan pedagang yang ia jumpai.“Masuk dari pintu utara, kiri-kanan langsung ada pedagang duduk. Saya enggak terlalu terganggu, mengerti ini tempat ramai. Tapi kalau pengunjung banyak, jadi agak sempit,” ujar Rama, Kamis .Ia melihat beberapa pedagang tampak waspada seolah takut razia. Meski begitu, ia tetap membeli minuman karena akses ke IRTI cukup jauh.“Jujur membantu. Kalau harus ke IRTI itu jauh,” katanya.Baca juga: Ahok Sebut Monas Bisa Banjir jika Tanggul Pantai Mutiara Jebol, Pramono: Semoga SalahMenurut dia, penataan kawasan Monas perlu konsisten, tidak terlalu steril namun tidak juga dibiarkan semrawut.Cinta (38), pengunjung lain asal Bekasi, merasakan hal serupa. Ia tidak mempermasalahkan pedagang minuman atau mainan anak, tetapi jalur masuk menjadi kacau.“Beberapa kali saya mesti menepi karena kerumunan kecil di depan pedagang es krim,” ujarnya.Ia melihat petugas Satpol PP lewat, tetapi pedagang tampak tetap bertahan.“Kasihan juga kalau mereka harus kucing-kucingan terus,” ungkapnya.Ferdy (19) juga menilai pedagang adalah hal biasa, tetapi merasa terganggu ketika ada pedagang yang mengikuti sambil menawarkan barang.“Beberapa pedagang nawarin minum sambil ngikutin sedikit. Itu agak mengganggu,” katanya.Ia turut mendengar keluhan pedagang soal razia dan berharap aturan lebih manusiawi diberlakukan.Baca juga: Prabowo Terima Raja Yordania di Istana Merdeka, Sempat Berkeliling Monas/Lidia Pratama Febrian Bertahan di Bawah Bayang Razia, Kisah PKL Liar yang Tak Bisa Menjauh dari Monas
(prf/ega)
Di Balik Keindahan Monas, PKL Bertahan Hidup Sambil Terus Kucing-kucingan
2026-01-12 06:31:33
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 07:05
| 2026-01-12 06:40
| 2026-01-12 05:49
| 2026-01-12 04:27










































