SIAPA yang tidak ingin ekonomi Indonesia tumbuh delapan persen? Semua tentu menginginkannya.Pertumbuhan tinggi bukan sekadar ambisi politik, melainkan kebutuhan strategis agar bangsa ini mampu keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah.Namun, pertumbuhan semacam itu tidak akan tercapai hanya dengan semangat dan pidato. Sebesar apa pun tekad yang dikumandangkan presiden, tanpa perubahan cara berpikir, sistem kerja, dan pola kebijakan, semuanya hanya akan menjadi mimpi di siang bolong.Pertanyaan pentingnya: mengapa keinginan para presiden sebelumnya untuk mendorong lompatan pertumbuhan ekonomi tidak pernah benar-benar terwujud?Mengapa ekonomi Indonesia selalu berhenti di kisaran lima persen dan hanya tumbuh tinggi ketika ditopang oleh faktor eksternal — seperti lonjakan harga komoditas atau arus investasi global sesaat?Jawabannya terletak pada paradigma pembangunan yang belum berubah. Pemerintah boleh berganti, tetapi logika pembangunan nasional tetap sama: bertumpu pada birokrasi administratif, bukan pada produktivitas masyarakat. Kebijakan ekonomi masih lebih sibuk mengatur daripada menumbuhkan.Pembangunan diukur dari banyaknya program, laporan, dan serapan anggaran, bukan dari seberapa besar nilai ekonomi yang dihasilkan rakyat.Negara tampak sibuk bekerja, tetapi sering kali sibuk pada urusan prosedur, bukan hasil. Akibatnya, energi nasional terserap dalam rutinitas administrasi, sementara daya cipta dan produktivitas masyarakat justru terhambat oleh sistem yang terlalu mengikat.Presiden Prabowo jika ingin tumbuh ekonomi 8 persen tidak bisa lagi mengandalkan cara pandang lama untuk membawa Indonesia keluar dari kutukan middle income trap. Sistem yang sama tidak akan menghasilkan hasil berbeda. Butuh pendekatan yang berani merubah cara.Prabowo mesti berani meninjau ulang paradigma pembangunan yang telah usang—menggeser orientasi dari pengelolaan prosedur menuju penciptaan nilai, dari tumpukan laporan menuju pertumbuhan produktivitas nasional.Tahun 1986, Vietnam adalah salah satu negara termiskin di dunia. Pendapatan per kapitanya hanya sekitar 231 dollar AS, bahkan lebih rendah dari sebagian besar negara di Afrika kala itu.Baca juga: Dosa Fiskal Whoosh Tak Seharusnya Dipayungi APBNNegara itu baru saja keluar dari perang panjang yang meluluhlantakkan segalanya—kelaparan merajalela, pabrik-pabrik hancur, pemerintah kehabisan uang, dan rakyat bekerja keras tanpa pernah melihat hasil. Kemiskinan menjadi wajah keseharian bangsa itu.Namun tiga puluh tahun kemudian, dunia terperanjat. Ekonomi Vietnam tumbuh jauh lebih cepat dibandingkan sebagian besar negara Asia Tenggara.Pendapatan per kapita mereka kini melampaui 4.000 dollar AS, dan tingkat kemiskinan anjlok dari 70 persen menjadi hanya 5 persen. Dunia pun menjulukinya sebagai The Silent Miracle—Keajaiban Asia yang Senyap.Apa yang sebenarnya mereka lakukan?Vietnam menyadari satu hal mendasar: tidak ada bangsa yang bisa maju dengan sistem yang tidak efektif.Pemerintahnya berani melakukan sesuatu yang jarang dilakukan negara berkembang: merombak cara berpikir dan cara bekerja. Mereka menyimpulkan dengan jujur—selama cara lama dipertahankan, hasilnya akan tetap sama.Selama bertahun-tahun, mereka hidup dalam sistem yang diyakini benar, tetapi justru tidak membawa kemajuan. Sistem itu kaku, tidak efisien, dan gagal menciptakan kesejahteraan.Namun, yang membedakan Vietnam dari banyak negara lain adalah keberanian untuk mengakui kesalahan. Mereka tidak mencari kambing hitam, tidak menyalahkan masa lalu, dan tidak berlindung di balik jargon lama.Vietnam berani mengucapkan kalimat yang menjadi titik balik sejarah mereka: “Bukan rakyatnya yang malas, melainkan sistemnya yang tidak jalan.”Dari kesadaran itulah perubahan dimulai. Pemerintah melakukan reformasi total—menyederhanakan birokrasi, menghapus regulasi yang menghambat, dan mengalihkan energi negara ke arah produktivitas rakyat.Mereka memilih cara baru, dengan keyakinan sederhana: “Kalau cara lama membuat kita gagal, maka kita harus berani mencoba cara baru.”
(prf/ega)
Menata Ulang Mesin Pertumbuhan Ekonomi: Berkaca pada Vietnam
2026-01-12 03:35:52
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 02:19
| 2026-01-12 01:58
| 2026-01-12 01:41
| 2026-01-12 01:40










































