Bupati Ipuk Apresiasi Kinerja TPS 3R Banyuwangi yang Sukses Kirim 60 Ton RDF ke Industri

2026-01-13 13:09:57
Bupati Ipuk Apresiasi Kinerja TPS 3R Banyuwangi yang Sukses Kirim 60 Ton RDF ke Industri
- Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengapresiasi kinerja Tempat Pengolahan Sampah Reduce Reuse Recycle (TPS 3R) di Banyuwangi yang berhasil mengolah sampah plastik menjadi bahan bakar alternatif refuse derived fuel (RDF).RDF merupakan bahan bakar alternatif yang berasal dari olahan sampah non-organik, seperti sampah plastik.Melalui proses pencacahan, pengeringan, dan pemadatan, limbah sampah plastik yang semula tidak bernilai diubah menjadi sumber energi baru yang ramah lingkungan dan bernilai ekonomis.“Ada sampah plastik yang bernilai ekonomis dan tidak. Yang tidak ini biasanya menjadi limbah. Limbah inilah yang kemudian diubah menjadi RDF di TPS 3R Banyuwangi,” ujar Ipuk dalam keterangan resminya, Kamis .Baca juga: Warga Sebut Masalah Uji Coba RDF Rorotan Bukan Truk Sampah, tapi...Dari total 26 TPS 3R yang ada di Banyuwangi, TPS 3R Balak di Kecamatan Songgon dan TPS 3R Tembokrejo di Kecamatan Muncar telah berhasil mengolah limbah sampah plastik menjadi RDF. Keduanya sukses memproduksi dan mengirim 60 ton RDF ke industri.Selain itu, TPS 3R Tembokrejo juga mendapatkan Plakat Adipura dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) sebagai TPS 3R Terbaik Nasional.“Ini merupakan bentuk nyata penerapan prinsip ekonomi sirkular, di mana limbah tidak lagi dibuang, tetapi diolah kembali menjadi produk bernilai guna. Langkah ini juga akan mengurangi beban tempat pembuangan akhir (TPA)," ucap Ipuk.Ia menegaskan komitmennya untuk terus mendorong pengolahan sampah di Banyuwangi dengan memperbanyak pendirian TPS 3R, sebagai bagian dari upaya pembangunan ramah lingkungan.Baca juga: Atasi Persoalan Sampah, Pemprov DKI Perbanyak TPS 3R“Kami telah bekerja sama untuk bisa menyerap hasil RDF dari semua TPS 3R di Banyuwangi. Ini akan menciptakan sistem yang berkelanjutan dan mendorong TPS 3R untuk terus berproduksi,” kata Ipuk.Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Dwi Handayani (Yani) menyampaikan, total RDF yang dihasilkan Banyuwangi mencapai 60 ton dengan rincian 20 ton RDF dari TPS 3R Balak dan 40 ton dari TPS 3R Tembokrejo.Adapun industri yang menjadi tujuan pengiriman RDF dari Banyuwangi adalah PT Solusi Bangun Indonesia (SBI), perusahaan semen yang mengembangkan konsep co-processing, yakni pemanfaatan limbah sebagai bahan bakar pengganti batu bara dalam produksi semen."Kami kirim ke SBI pada Oktober 2025 lalu,” kata Yani.Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa sampah RDF yang dikirim Banyuwangi telah memenuhi sejumlah kriteria yang ditentukan meliputi kandungan nilai kalor, ukuran dan bentuk, kandungan air, sulfur, serta klorin.Baca juga: RDF Rorotan, Solusi Sampah yang Hadirkan Masalah Baru


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Dalam pembukaan forum yang berlangsung di Hedley Bull Lecture Theater 3 tersebut, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Fajar Riza Ul Haq juga menekankan bahwa pembudayaan Bahasa Indonesia tak lagi hanya menjadi urusan domestik, tetapi sudah menjadi bagian dari strategi diplomasi yang relevan di tengah perubahan geopolitik kawasan.Ia menyebut bahwa posisi Indonesia dan Australia yang semakin strategis dalam dinamika Indo-Pasifik membuat penguatan bahasa menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditunda.Menurutnya, kedua negara tidak hanya berbagi kedekatan geografis dan hubungan diplomatik yang panjang, tetapi juga berada pada simpul penting ekonomi masa depan.Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia dan Australia sama-sama memiliki peran besar dalam rantai pasok mineral strategis yang menjadi tulang punggung transisi energi dan industri berkelanjutan. Situasi ini menempatkan kerja sama kedua negara bukan semata hubungan bilateral, tetapi bagian dari arsitektur geoekonomi global.Di atas fondasi itulah, bahasa dan pendidikan dipandang sebagai jembatan yang memperkuat kemitraan jangka panjang. Penguasaan Bahasa Indonesia di Australia maupun peningkatan pemahaman budaya di kedua belah pihak diyakini mampu memperluas ruang kolaborasi, mulai dari dunia akademik, industri, hingga diplomasi publik.“Saya hadir mewakili Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Bapak Abdul Mu’ti dalam acara Kongres Pertama Bahasa Indonesia ini untuk menegaskan komitmen pemerintah Indonesia dalam memperkuat peran Bahasa Indonesia di kawasan regional dan global melalui diplomasi pendidikan dan kebudayaan,” tegasnya.

| 2026-01-13 12:10