- Kalimat 'jangan diini-iniin...apa namanya? adalah pokoknya' tengah seliweran di sosial media. Walau terdengar samar dan tidak lengkap, istilah universal ini cukup akrab dalam percakapan masyarakat Indonesia.Frasa ini kerap muncul di mana saja, mulai dari perbincangan di jejaring sosial, obrolan saat nongkrong, bahkan percakapan serius yang seharusnya butuh kejelasan.Lantas kenapa frasa ini bisa jadi populer bahkan mulai viral di berbagai media sosial?Dosen Sastra Indonesia Universitas Sebelas Maret (UNS), Miftah Nugroho memberikan pandangan menarik mengenai fenomena ini.Baca juga: Dark Jokes Ternyata Cermin Kecerdasan dan Ketenangan Emosi, Ini Penjelasan IlmuwanMiftah menyebut, eskpresi verbal "jangan diini-iniin, apa namanya? adalah pokoknya" merupakan produksi bahasa yang dihasilkan oleh seorang penutur manakala lupa (kadang lupa sesaat) untuk merujuk sesuatu hal yang hendak dijelaskan. "Oleh karena itu, untuk mengganti sesuatu yang lupa, lantas penutur mencari kata yang mudah untuk sekadar mengganti yang lupa tadi. Kata yang mudah untuk digunakan adalah kata 'ini', 'itu', atau 'anu'," terang pemerhati bahasa tersebut kepada Kompas.com, Selasa . Miftah menjelaskan, frasa 'jangan diini-iniin' sesungguhnya merupakan kalimat perintah agar mitra tutur tidak melakukan sesuatu. Namun karena lupa, kata 'ini' lah yang digunakan.Sedangkan, 'apa namanya?' juga merupakan ekspresi verbal yang memperlihatkan bahwa penutur lupa kata apa yang akan disampaikan. Begitu pula dengan kata 'adalah pokoknya' "Dalam konteks ini 'pokoknya' berdasarkan makna yang diambil dari KBBI VI daring dapat dipahami yang terutama atau yang sangat penting," lanjutnya. Baca juga: Indonesia Peringkat 2 dari 10 Negara dengan Bahasa Terbanyak di DuniaSaat mendengar ekspresi verbal tersebut, uniknya mitra bicara tak jarang mengisyaratkan gestur paham. Padahal artinya belum sepenuhnya jelas. Hal ini, lanjut Miftah, terjadi karena adanya pemahaman yang sama atau pengetahuan bersama antara penutur dan mitra tutur sebelum komunikasi terjadi. "Oleh karena itu, saat penutur menggunakan ekspresi tersebut, mitra tutur tidak butuh waktu lama dapat memahami karena sudah satu frekuensi. Bahkan kadang yang terjadi malah mitra tutur yang ingat apa kata yang akan digunakan oleh penutur," paparnya.Dalam responsnya, mitra bicara sering mengganggukkan kepala atau menanggapi dengan jawaban "oh iya" dengan tujuan untuk menghormati penutur yang sedang bertutur. "Di dalam kajian pragmatik (kajian yang menelaah penggunaan bahasa), saat penutur berujar, mitra tutur dianjurkan untuk melakukan tanggapan," paparnya.
(prf/ega)
Viral Frasa 'Jangan Diinin, Apa Namanya?' tapi Kok Mitra Bicara Paham? Ini Penjelasan Ahli Bahasa
2026-01-11 14:37:12
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-11 14:31
| 2026-01-11 14:20
| 2026-01-11 13:13
| 2026-01-11 13:07










































