Truk ODOL: Ancaman Nyata di Jalan Raya Indonesia

2026-01-12 02:08:47
Truk ODOL: Ancaman Nyata di Jalan Raya Indonesia
JAKARTA, - Kecelakaan lalu lintas yang melibatkan kendaraan berat masih menjadi salah satu masalah besar di Indonesia.Dalam berbagai laporan, kecelakaan yang melibatkan truk ODOL (Over Dimension Over Loading) tercatat memberikan dampak signifikan terhadap korban jiwa dan kerusakan infrastruktur.Baca juga: Begini Cara Kerja Engine Brake Mobil Listrik Saat Melewati TurunanDi sejumlah ruas jalan nasional maupun tol, insiden yang melibatkan truk bermuatan berlebih kerap dipicu oleh kemampuan pengereman yang menurun, handling yang tidak stabil, hingga ban yang tidak lagi mampu menahan beban.Kondisi ini membuat pengendara umum berada pada risiko tinggi setiap kali berbagi ruang jalan dengan truk ODOL.Menurut pembalap nasional sekaligus Wakil Ketua Umum Bidang Mobilitas IMI Pusat, Rifat Sungkar, praktik ODOL merupakan bentuk penyalahgunaan kendaraan yang sangat membahayakan.“Saya benar-benar menentang yang namanya ODOL. Saya enggak suka ODOL,” ujarnya kepada Kompas.com di Jakarta Selatan, Kamis .Rifat menjelaskan bahwa bahaya ODOL bukan hanya soal muatan berlebih, tetapi karena kendaraan dipaksa bekerja pada batas maksimal secara terus-menerus.KOMPAS.COM/M. Elgana Mubarokah Hendra Supriatna (38) salah satu sopir truk pengkut pasir dan lainnya dan truknya yang berwarna putih, saat melakukan aksi demo pebolakan aturan Odol di Jalan terus Exit Tol Soroja, Kabupaten Bandung, Jawa Barat beberapa waktu laluPadahal, sebuah kendaraan dirancang untuk beroperasi pada kapasitas normal agar seluruh komponennya—mulai dari rem, suspensi, hingga stabilitas—dapat bekerja sebagaimana mestinya.Ia menegaskan bahwa ketika kendaraan membawa muatan berlebih, banyak sistem pada truk kehilangan kemampuan kerjanya.Rem tidak dapat bekerja optimal, sasis menerima tekanan berlebih, dan kemampuan pengendalian menurun drastis.Pada situasi darurat, kondisi ini membuat truk sangat sulit dihentikan atau dikendalikan, sehingga membahayakan pengendara lain.Menurut Rifat, salah satu akar masalah ODOL adalah dorongan untuk mengangkut barang sebanyak mungkin dalam satu perjalanan.Cara ini dianggap efisien oleh sebagian pelaku usaha, padahal efek jangka panjangnya jauh lebih merugikan.“Kerugiannya lebih besar. Jalanan hancur,” ujarnya.Baca juga: Desain 3D dan LED Modern, Tren Baru Modifikasi Lampu BelakangIa juga menyebut bahwa pemerintah perlu memperketat pengawasan, terutama dalam penentuan standar ban yang sesuai kapasitas muatan.Ban yang tidak sesuai standar tidak hanya merusak jalan, tetapi juga membuat rem dan sistem stabilitas kendaraan tidak bisa bekerja sebagaimana mestinya.Dengan meningkatnya jumlah kecelakaan dan kerusakan jalan akibat ODOL, Rifat menilai penting adanya kontrol yang jauh lebih tegas.Pengaturan standar ban, pengawasan jembatan timbang, hingga penegakan sanksi perlu dioptimalkan agar praktik ODOL tidak lagi merugikan masyarakat luas.


(prf/ega)