Curi Motor di Bantul, Pelaku Gunakan Kerudung Ibu, Tertangkap Usai Masuk Jurang

2026-01-14 13:31:08
Curi Motor di Bantul, Pelaku Gunakan Kerudung Ibu, Tertangkap Usai Masuk Jurang
YOGYAKARTA, - Dua orang pencuri sepeda motor diringkus polisi. Aksi itu dilakukan saat terpengaruh minuman keras.Salah satu dari mereka ada yang memakai kerudung coklat bermotif bunga milik ibunya.Kapolsek Dlingo Iptu Yuwana mengatakan, peristiwa pencurian ini terjadi di Kalurahan Temuwuh, Kapanewon Dlingo, Bantul, Yogyakarta pada Sabtu sekitar pukul 04.30 WIB.Pihaknya mengamankan dua orang, yakni AK (18) warga Prambanan, Sleman, dan MIN (22) warga Piyungan, Bantul.Keduanya melakukan pencurian saat terpengaruh minuman keras.Baca juga: Di Bantul, Baru 4 SPPG dari 55 yang Kantongi Sertifikat Laik Higiene SanitasiPengungkapan kasus pencurian bermula saat dua orang warga yang sedang duduk dan melihat dua orang melintas.Satu motor, dikendarai oleh orang berkerudung dengan didorong dari belakang oleh motor satunya. Gerak-gerik itu membuat warga curiga.Warga kemudian mencoba mengejar mereka. Namun, para pelaku malah menambah laju kendaraan."Satu motor dikendarai orang berkerudung dengan distep atau didorong dari belakang oleh motor satunya. Merasa curiga, dikejar yang menyetep (mendorong) menambah laju kendaraan," kata Kapolsek di Mapolres Bantul, Rabu .Baca juga: Video Viral Perempuan Marah di Dinsos Bantul, Ternyata Sama di Masjid JogokariyanKedua pelaku kemudian masuk ke jalan kampung. Motor yang didorong kemudian hilang kendali karena jalan berkabut dan akhirnya masuk ke jurang dengan kedalaman 2 meter.Warga kemudian melaporkan kejadian itu ke Polsek Dlingo. Petugas langsung datang dan mengamankan keduanya."Untuk yang menggunakan kerudung itu MIN," kata Yuwana.Polisi mengamankan barang bukti sebuah sepeda motor PCX, Honda Genio, kerudung warna coklat bermotif bunga, celana, sarung, dan helm.Keduanya disangkakan Pasal 363 KUHP tentang Tindak Pidana Pencurian dengan Pemberatan. Ancaman hukumannya 9 tahun penjara.Dari pengakuan tersangka, MIN, mengatakan jika dirinya memakai kerudung karena tidak menggunakan helm dan kedinginan.Baca juga: 2 Karyawan Jasa Pengiriman di Bantul Curi Paket Berisi iPhone 17 Pro Senilai Rp 32 Juta"Saya nggak ada jaket, kedinginan (kerudung) buat tutup telinga. Kerudungnya ibu saya. Saya nggak pakai helm," kata dia.Dia juga mengaku tidak berniat mencuri dan mengaku mencuri dalam pengaruh minuman keras.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Bersamaan dengan hal tersebut, pemateri sekaligus psikolog, Muslimah Hanif mengatakan, hasil dari rapid asesmen yang dilakukan menunjukkan lebih dari 50 persen peserta menunjukkan emosi cenderung sedih.Ada sebagian dari mereka menunjukkan hasil emosi senang karena dapat bermain dan berjumla dengan teman-temannya.Hasil lain juga didapat dari wawancara informal dengan kepala sekolah dan guru. Sebagian besar dari mereka masih merasa cemas dan memerlukan bantuan untuk mengurangi rasa khawatir terkait dengan kondisi cuaca yang masih tidak menentu serta dampak dari bencana yang terjadi, ujar Muslimah.Selanjutnya, Kemendikdasmen juga akan melakukan pendampingan psikososial di beberapa titik lokasi bencana. Dengan harapan, warga satuan pendidikan terdampak bencana tetap semangat dan terbangun rasa senang dalam proses pembelajaran.DOK. KEMENDIKDASMEN Mendikdasmen Abdul Mu?ti saat mengajak siswa menyanyi bersama di tenda darurat Dusun Suka Ramai, Kabupaten Langkat, Sumatra Utara .Pemulihan psikologis murid menjadi langkah penting sebelum proses belajar-mengajar dimulai kembali. Tanpa penanganan tepat, trauma ini dapat berkembang menjadi gangguan jiwa serius di kemudian hari dan menghambat potensi anak-anak dalam jangka panjang.Anak-anak dan remaja adalah kelompok sangat rentan terhadap trauma pascabencana. Mengalami banjir, kehilangan rumah, harta benda, atau bahkan orang yang dicintai dapat memicu gangguan kesehatan mental.Baca juga: Kementrans Monitoring Kawasan Transmigrasi Terdampak Banjir SumateraPenting juga untuk diingat bahwa guru juga menjadi korban dan mengalami trauma. Guru yang lelah secara emosional atau mengalami trauma sendiri tidak akan siap untuk mengajar secara efektif, yang pada akhirnya memengaruhi siswa.Dukungan tepat dan berkelanjutan sangat penting agar anak-anak dapat memproses trauma yang mereka alami, bangkit kembali, dan melanjutkan tugas perkembangan mereka dengan baik.

| 2026-01-14 13:11