Warga Dengar Teriakan 'Ampun Bang' Sebelum Pria di Bogor Ditemukan Tewas

2026-01-13 13:23:28
Warga Dengar Teriakan 'Ampun Bang' Sebelum Pria di Bogor Ditemukan Tewas
Seorang pria berinisial AN (25) ditemukan tewas bersimbah darah dengan kondisi leher terlilit kawat di Kampung Panjang, Bojonggede, Kabupaten Bogor. Warga sempat mendengar teriakan sebelum korban ditemukan."Sekitar pukul 23.30 WIB, saksi mendengar keributan dari dalam rumah korban. (Saksi) Sempat mendengar suara minta tolong 'Ampun Bang'," ujar Kasi Humas Polres Metro Depok AKP Made Budi saat dihubungi wartawan, Senin .Pada Senin pukul 00.30 WIB, suara keributan itu sudah tak terdengar lagi.Warga setempat kemudian mendatangi TKP."Hari Senin tanggal 3 November 2025 sekitar pukul 00.30 WIB sudah tidak terdengar lagi suara berantem dan warga sudah banyak datang ke lokasi," jelasnya.Made mengatakan saksi 2 yang merupakan adik korban bersama rekannya datang ke rumah korban. Adik korban kemudian mendobrak pintu rumah."(Saksi) Melihat darah berceceran. Dan (korban) sudah tergeletak di kamar belakang dekat dapur. Lalu saksi mengecek nadi leher korban dan sudah tidak ada denyut," jelasnya.Adapun polisi mengamankan barang bukti berupa dua unit motor, 1 pisau dapur, 1 gitar, 1 mangkuk kondisi pecah, dan 1 kawat yang terlilit di bagian leher korban. Saat ini polisi masih menyelidiki kasus tersebut guna mengejar pelaku.Lihat juga Video: Pria Dianiaya hingga Tewas saat Tidur di Masjid Sibolga Sumut[Gambas:Video 20detik]


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-01-13 12:03