Jejak Batik Patron, Harta Karun dari Ambarawa: Hilang di Era Jepang, Ditemukan di Belanda

2026-01-12 04:49:27
Jejak Batik Patron, Harta Karun dari Ambarawa: Hilang di Era Jepang, Ditemukan di Belanda
UNGARAN, - Jejak Batik Patron khas Ambarawa tercatat pernah berjaya pada abad ke-18. Namun, barang yang disebut sebagai harta karun ini pernah hilang di era penjajahan Jepang. Sejarah batik ini kemudian terungkap saat dokumennya ditemukan di salah satu museum di Leiden, Belanda.Kejayaan batik patron di masa lampau bahkan mampu bersanding dengan produsen batik lain dari wilayah Solo dan Yogyakarta.Kala itu, ada delapan pabrik dan delapan toko batik patron di wilayah kawedanan meliputi Ambarawa, Bandungan, Sumowono, Jambu, Banyubiru, Tuntang, dan Bawen.Baca juga: Pelestarian Batik Patron, Upaya Mengembalikan Ambarawa sebagai Sentra Batik KlasikNamun, kondisi semua berubah saat masa penjajahan Jepang. Rumah produksi batik patron hancur. Toko-toko tiada yang tersisa.Bahkan, jejak sejarah batik patron pun lenyap.Cerita kejayaan ini kemudian kembali muncul setelah pegiat sejarah menemukan catatan mengenai Batik Patron pada 2020.Eksistensinya lalu dikenalkan kembali ke masyarakat pada Maret 2021 dalam acara Seminar Batik Patron Ambarawa 1867.Sejak saat itu, komunitas Batik Patron mulai gencar mengenalkan harta karun yang pernah hilang ini sebagai jatidiri budaya Ambarawa.Baca juga: Perjuangan Perempuan Ambarawa, Pulangkan Batik Patron dari Leiden/Dian Ade Permana Para pelajar antusiasi belajar mengenai sejarah batik patron AmbarawaPegiat komunitas, Desi Derria mengatakan, setelah ditemukan dokumen terkait batik patron di salah satu museum di Leiden, Belanda, dirinya semakin bersemangat mengulik tentang batik tersebut."Dalam dokumen bertahun 1867 tersebut tertulis lengkap tentang batik patron Ambarawa, termasuk 83 motif dengan berbagai gaya yang terpengaruh batik Solo, Yogya, dan Kebumen," kata Deri, Sabtu di sela Pameran Batik Patron Ambarawa Celebrate The Beauty of Batik.Saat ini dirinya sedang fokus pada literasi dan dokumentasi.Sementara rekannya, Mahfud Fauzi, menjadi satu-satunya yang memproduksi batik patron Ambarawa saat ini."Sebenarnya setiap ada acara, respons dan antusiasme masyarakat itu sangat bagus. Namun, memang kendala pemassalan produksi batik ini di antaranya alat produksi yang terhitung mahal," paparnya./Dian Ade Permana Pelajar belajar membatik saat Pameran Batik Patron Ambarawa Celebrate The Beauty of BatikRahman Fuad, Ketua Tim Program Inovasi Seni Nusantara UNS, menilai batik patron adalah harta karun.


(prf/ega)