KULON PROGO, – Di perbukitan hijau Kalurahan Banjarharjo, Kapanewon Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, berdiri tenang kompleks Makam Pahlawan Nasional Nyi Ageng Serang.Di balik keheningan tempat peristirahatan tokoh perempuan pejuang ini, ada sosok sederhana yang setia merawatnya setiap hari: Wagiman (35), juru kunci generasi keempat dari keluarga yang telah turun-temurun mengabdi di makam tersebut.“Saya sudah enam tahun jadi juru kunci. Dulu yang pertama simbah buyut saya, lalu simbah, terus bapak, dan sekarang saya yang meneruskan,” ujar Wagiman saat ditemui di area makam, Senin .Dahulu, bukit tempat makam ini berdiri dikenal sebagai Bukit Traju Mas. Kawasan ini pernah menjadi markas Nyi Ageng Serang bersama para pengikutnya dan kini menjadi tempat peristirahatan terakhirnya.Nyi Ageng Serang, yang memiliki nama asli Raden Ajeng Kustiah Wulaningsih Retno Edi, merupakan putri penguasa wilayah Serang, daerah terpencil di bawah kekuasaan Kerajaan Mataram.Baca juga: Delapan Bulan Jelang Pensiun, Pahlawan Tanpa Tanda Jasa Abdul Muis Diberhentikan Setelah Putusan MASaat dewasa, ia tampil sebagai salah satu panglima perang perempuan yang berjuang melawan penjajah, terutama dalam Perang Diponegoro (1825–1830).Kini, kompleks makam tersebut menjadi tempat dimakamkannya keluarga dan para pengikut setia Nyi Ageng Serang. Terdapat dua bangunan joglo di area itu.Di dalam ruang berpagar kaca pada bangunan sebelah timur, terbaring pusara sang pahlawan, dikelilingi nisan para abdi dalem kepercayaannya.Selain menyimpan sejarah perjuangan, kompleks makam ini juga memiliki keunikan alam. Di halamannya tumbuh banyak pohon nagasari, yang menurut cerita hanya bisa hidup di tempat yang memiliki hubungan darah dengan keraton.“Katanya, pohon ini diperkirakan sama dengan umur makam ini,” kata Wagiman. “Buahnya juga berguna, bisa buat campuran gula jawa supaya warnanya kuning bagus.”Sebagai perawat makam pahlawan nasional di bawah Kementerian Sosial, tugas Wagiman bukan hanya menjaga pintu, melainkan juga merawat seluruh fasilitas: menyapu, mengepel, memperbaiki genteng, membersihkan halaman, serta memastikan listrik dan air berfungsi dengan baik.Saat ada acara besar seperti peringatan Hari Pahlawan, ia mulai bekerja sejak pukul 03.30 dini hari.Setiap tahun, terutama di bulan Ruwah dan Suro, makam ini ramai diziarahi. Namun hampir setiap hari juga ada tamu datang—baik peziarah, peneliti, maupun pelajar yang ingin belajar tentang sejarah perjuangan.“Pernah ada seribu siswa SMA berkunjung ke sini. Kami jelaskan sejarahnya, siapa Nyi Ageng Serang dan kenapa beliau dimakamkan di sini,” kenang Wagiman.Ia juga kerap menceritakan kisah di balik setiap nisan di kompleks tersebut—mulai dari pusara Nyi Ageng Serang, abdi dalem kepercayaannya, hingga keturunannya seperti Raden Mas Budi Utomo, tokoh penting dalam proses penobatan Nyi Ageng Serang sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 1974.
(prf/ega)
Cerita Wagiman, Juru Kunci Muda yang Rawat Makam Pahlawan Nyi Ageng Serang
2026-01-12 06:34:53
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 05:42
| 2026-01-12 05:40
| 2026-01-12 05:25
| 2026-01-12 04:57
| 2026-01-12 04:54










































