Wakalemdiklat Pastikan Polri Terus Berbenah: Kepercayaan Publik yang Utama

2026-01-11 22:25:50
Wakalemdiklat Pastikan Polri Terus Berbenah: Kepercayaan Publik yang Utama
Wakalemdiklat Polri, Irjen Achmad Kartiko, memastikan Polri terus berbenah mendengar masukan masyarakat. Komitmen itu dilakukan untuk terus menjaga kepercayaan publik terhadap Polri.Hal itu disampaikan Kartiko membacakan saat sambutan Wakapolri, Komjen Dedi Prasetyo, dalam Dialog Literasi Kebangsaan STIK (Dilibas). Dialog tersebut mengusung tema 'Transformasi Polri Antara Citra dan Realita'.Kartiko menyatakan Polri terus berupaya terus menghadirkan kebaikan dan melakukan perbaikan. Namun dia tak memungkiri masih ada kekurangan di tubuh Korps Bhayangkara."Upaya transformasi yang dilakukan oleh Polri telah berlangsung sejak era Reformasi hingga hari ini, dalam berbagai bentuk pembenahan dan perubahan yang dilaksanakan secara berkelanjutan," kata Kartiko dalam Dialog digelar di Auditorium Mutiara, STIK Polri, Jakarta Selatan, Rabu ."Namun kami mengakui Polri masih memiliki banyak kekurangan dan tidak luput dari kesalahan selama menjalankan tugas," sambungnya.Dia menyebut, pada dunia modern saat ini, Korps Bhayangkara turut menghadapi perubahan yang cepat dan penuh ketidakpastian. Kartiko menyebut kerusuhan akhir Agustus lalu menjadi salah satu momen Polri untuk melakukan refleksi."Belajar dari rentetan peristiwa tersebut, kami sadar bahwa Polri harus peka terhadap perubahan sosial yang terjadi, lebih terbuka terhadap kritik, dan responsif terhadap aspirasi publik, yang merupakan elemen penting dalam menjaga stabilitas kamtibmas," tutur Kartiko.Untuk menjawab tuntutan tersebut, Polri mencanangkan akselerasi transformasi. Program ini dirumuskan secara terukur, berbasis data, serta berorientasi pada permasalahan riil di lapangan."Dari berbagai program yang dijalankan, ada dua fokus utama yang menjadi prioritas saat ini, yaitu merubah wajah pelayanan publik Polri melalui optimalisasi Pamapta (Patroli, Pengamanan, dan Pelayanan Masyarakat Terpadu), SPKT dan hotline 110. Serta peningkatan kehadiran polisi di tengah-tengah masyarakat melalui patroli dialogis dan optimalisasi community policing," jelas dia.Mantan Kapolda Aceh itu mengatakan peristiwa kerusuhan akhir Agustus mengakibatkan penurunan legitimasi publik terhadap Korps Bhayangkara. Namun, setelah kejadian itu, Polri langsung melakukan evaluasi dan terus berbenah."Prahara Agustus memberikan dampak yang sangat signifikan terhadap menurunnya legitimasi publik kepada Polri. Hasil survei Litbang Kompas pada bulan September menunjukkan tingkat kepuasan publik terhadap Polri berada pada angka 42,1 persen, sedangkan citra positif Polri tercatat sebesar 44,5 persen," paparnya.Namun, setelah implementasi program Quick Wins pada Oktober, survei terbaru mencatat kenaikan tingkat kepuasan publik terhadap Polri menjadi 65 persen. Sedangkan citra positif terhadap Polri meningkat hingga menjadi 64,4 persen"Kenaikan ini memberikan pesan bahwa perubahan yang dilakukan bukan hanya sebuah konsep, tetapi dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat," ucap Kartiko.Dia menerangkan Polri terus melakukan pemetaan masalah secara berkala. Sebab, kepercayaan publik terhadap institusi adalah modal utama dalam melaksanakan tugas."Pemetaan masalah melalui survei secara berkala dilakukan karena Polri memahami bahwa kepercayaan publik adalah modal utama dalam melaksanakan tugas. Di era post-truth, kepercayaan publik tidak cukup dibangun dengan narasi, tetapi harus dibangun dengan tindakan nyata yang berdampak langsung pada kehidupan masyarakat," terangnya.Di sisi lain, Kartiko berharap masyarakat bisa memahami paradoks dalam pelaksanaan tugas kepolisian di lapangan. Di mana polisi wajib memberikan perlindungan, pengayoman, dan pelayanan terbaik pada masyarakat. Tetapi di sisi lain, harus menegakkan hukum secara tegas dan berkeadilan."Dua tuntutan dalam pelaksanaan tugas ini sering menghasilkan persepsi yang berbeda di mata publik. Terutama ketika penegakan hukum menyentuh langsung kehidupan sehari-hari masyarakat," imbuh Kartiko."Dalam realitas tersebut, diharapkan dapat dipahami serta diterima oleh masyarakat secara objektif," pungkasnya.Simak juga Video: Komisi Reformasi Polri Ajak Masyarakat Beri Masukan, Via WA atau Email[Gambas:Video 20detik]


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Bersamaan dengan hal tersebut, pemateri sekaligus psikolog, Muslimah Hanif mengatakan, hasil dari rapid asesmen yang dilakukan menunjukkan lebih dari 50 persen peserta menunjukkan emosi cenderung sedih.Ada sebagian dari mereka menunjukkan hasil emosi senang karena dapat bermain dan berjumla dengan teman-temannya.Hasil lain juga didapat dari wawancara informal dengan kepala sekolah dan guru. Sebagian besar dari mereka masih merasa cemas dan memerlukan bantuan untuk mengurangi rasa khawatir terkait dengan kondisi cuaca yang masih tidak menentu serta dampak dari bencana yang terjadi, ujar Muslimah.Selanjutnya, Kemendikdasmen juga akan melakukan pendampingan psikososial di beberapa titik lokasi bencana. Dengan harapan, warga satuan pendidikan terdampak bencana tetap semangat dan terbangun rasa senang dalam proses pembelajaran.DOK. KEMENDIKDASMEN Mendikdasmen Abdul Mu?ti saat mengajak siswa menyanyi bersama di tenda darurat Dusun Suka Ramai, Kabupaten Langkat, Sumatra Utara .Pemulihan psikologis murid menjadi langkah penting sebelum proses belajar-mengajar dimulai kembali. Tanpa penanganan tepat, trauma ini dapat berkembang menjadi gangguan jiwa serius di kemudian hari dan menghambat potensi anak-anak dalam jangka panjang.Anak-anak dan remaja adalah kelompok sangat rentan terhadap trauma pascabencana. Mengalami banjir, kehilangan rumah, harta benda, atau bahkan orang yang dicintai dapat memicu gangguan kesehatan mental.Baca juga: Kementrans Monitoring Kawasan Transmigrasi Terdampak Banjir SumateraPenting juga untuk diingat bahwa guru juga menjadi korban dan mengalami trauma. Guru yang lelah secara emosional atau mengalami trauma sendiri tidak akan siap untuk mengajar secara efektif, yang pada akhirnya memengaruhi siswa.Dukungan tepat dan berkelanjutan sangat penting agar anak-anak dapat memproses trauma yang mereka alami, bangkit kembali, dan melanjutkan tugas perkembangan mereka dengan baik.

| 2026-01-11 21:39