- Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) menilai soal-soal Tes Kemampuan Akademik (TKA) SMA 2025 yang terlalu sulit menjadi salah satu faktor penyebab jebloknya nilai siswa di ujian tersebut.Kepala Bidang Advokasi Guru P2G Iman Zanatul Haeri mengatakan, beberapa guru memang ada yang mengeluhkan bahwa soal-soal TKA berbeda dengan apa yang diajarkan di sekolah."Iya kalau disebut berpengaruh atau tidak tentu saja ada pengaruhnya ya," kata Iman kepada Kompas.com, Rabu .Kendati demikian, menurut Iman, yang harus juga jadi catatan adalah sebenarnya siswa juga banyak juga yang tidak berniat untuk mendapatkan nilai bagus pada pelaksanaan TKA.Iman menilai, dalam satu kelas biasanya hanya beberapa siswa yang memang berniat mendapatkan nilai bagus di TKA, sementara sisanya hanya sekadar mengikuti."Ada pengaruh-pengaruh lain misalkan motivasi anak-anak untuk mengikuti TKA ini kan juga tidak semuanya memang niat benar-benar mengerjakan," ujarnya."Ada satu laporan misalkan dalam satu sekolah hanya beberapa saja yang niat mendapatkan skor tertinggi. Kalau yang lainnya ya tidak ada niat hanya mengerjakan saja. Mungkin itu juga menjadi salah satu faktor ya," lanjut dia.Oleh karena itu, Iman menyarankan ada beberapa perbaikan yang dilakukan pemerintah mulai dari peningkatan kapasitas guru untuk perbaiki mutu pendidikan.Hal ini menurut Iman sangat mendesak untuk segera dilakukan sebagai solusi peningkatan kemampuan siswa."Solusinya menurut kami adalah peningkatan kapasitas guru dan saya kira ini sudah sangat mendesak. Syarat peningkatan kapasitas guru tentu saja adalah jaminan kesejahteraan, itu saya kira sangat penting bagi semua profesi," ucap Iman.Sebelumnya diberitakan, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengungkap nilai rerata siswa SMA sederajat di TKA 2025.Baca juga: Skor TKA SMA Jeblok, Mendiktisaintek Bakal Evaluasi PT Penghasil GuruHasilnya, nilai rerata paling tinggi mata pelajaran wajib adalah Antropologi yakni sebesar 70,43 dan paling rendah adalah mata pelajaran Bahasa Inggris Wajib 24,93."Rerata tertinggi tercatat pada beberapa mata pelajaran pilihan antara lain misalnya kalau kita lihat dari mata pelajaran pilihan antropologi ini dengan rata-rata sekitar 70,4," kata Kepala Badan Standar Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kemendikdasmen, Toni Toharudin di Kantor Kemendikdasmen, Jakarta, Senin .Selain Bahasa Inggris Wajib, mata pelajaran yang nilainya rendah dalam TKA adalah Matematika yakni 36,10. Adapun penilaian ini dilakukan dengan skala maksimum 100,00.Sementara, mata pelajaran pilihan dengan nilai rerata relatif rendah antara lain Bahasa Korea sebesar 28,55, kemudian Ekonomi 31,68."Sementara ini rata-rata dari mata pelajaran wajib Bahasa Inggris Wajib bapak-ibu sekalian kita lihat rata-ratanya 24,9. Kemudian Matematika Wajib rata-ratanya 36,1," ujarnya.Kendati demikian, Toni menegaskan, nilai-nilai tersebut tidak dimaknai sebagai peringkat atau penentu kelulusan, tetapi capaian untuk melihat kompetensi siswa.Kemudian, hasil tersebut bisa dijadikan evaluasi baik untuk siswa ataupun sekolah dan pemerintah daerah."Data ini saya kira akan menjadi bahan evaluasi kebijakan, kemudian penguatan pendampingan untuk seluruh satuan pendidikan, dan juga peningkatan kualitas pembelajaran ke depan," jelas Toni.Baca juga: Orangtua Bisa Cek Hasil TKA Siswa, lewat Link tka.kemendikdasmen.go.id
(prf/ega)
Perhimpunan Guru Ungkap Sebab Nilai TKA Jeblok, Motivasi Siswa hingga Soal Terlalu Sulit
2026-01-11 03:14:51
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-11 03:37
| 2026-01-11 03:19
| 2026-01-11 03:14
| 2026-01-11 02:13










































