Mengolah Nilai Siswa, Tantangan Guru di Balik E-Rapor

2026-01-12 05:39:00
Mengolah Nilai Siswa, Tantangan Guru di Balik E-Rapor
Setelah ujian berakhir dan aplikasi rapor diperkenalkan, mengapa justru pengolahan nilai siswa menjadi tantangan paling berat bagi guru?Beberapa hari lalu, pelaksanaan Sumatif Akhir Semester (SAS) Ganjil Tahun Pelajaran 2025–2026 untuk jenjang SD di Pekanbaru resmi berakhir. Bagi siswa, fase ini menandai selesainya rangkaian evaluasi belajar.Namun bagi guru, justru inilah awal dari pekerjaan panjang yang membutuhkan ketelitian, kesabaran, dan pertimbangan matang.Setelah lembar jawaban dikumpulkan, tugas guru belum benar-benar selesai. Mengoreksi hasil pekerjaan siswa, mengolah nilai dari berbagai komponen, hingga memasukkannya ke dalam rapor menjadi rutinitas akhir semester yang tak pernah ringan. Di fase inilah beban kerja guru sering kali terasa paling nyata.Beberapa waktu sebelum SAS dilaksanakan, muncul wacana penerapan e-rapor yang disosialisasikan kepada guru.Harapannya jelas: penilaian menjadi lebih tertib, rapi, dan efisien. Teknologi diharapkan membantu memangkas proses administrasi yang selama ini menyita banyak waktu.Namun dalam praktiknya, informasi yang beredar justru memunculkan kebingungan. Guru disebut tetap harus mengisi rapor manual terlebih dahulu, sebelum melanjutkan penginputan ke e-rapor. Bagi sebagian guru, kondisi ini dipersepsikan sebagai penambahan beban, bukan penyederhanaan.Karena keterbatasan waktu dan belum matangnya kesiapan teknis, penggunaan e-rapor pun akhirnya belum diberlakukan secara resmi.Guru-guru SD negeri di Pekanbaru masih menggunakan aplikasi rapor manual seperti semester-semester sebelumnya.Situasi ini menunjukkan bahwa setiap kebijakan membutuhkan kesiapan sistem dan komunikasi yang matang sebelum diterapkan secara menyeluruh.Namun sesungguhnya, persoalan guru tidak berhenti pada urusan aplikasi semata. Tantangan yang jauh lebih besar justru terletak pada satu hal mendasar: bagaimana menentukan nilai siswa secara adil, logis, dan bertanggung jawab.Mengolah Nilai di Antara Standar dan Realitas AnakBagi sebagian besar guru, mempelajari aplikasi baru bukanlah hal yang paling menakutkan. Dengan pendampingan dan waktu adaptasi, kebanyakan mampu menyesuaikan diri.Kolaborasi antar guru pun kerap terjadi secara alami—guru muda membantu aspek teknis, sementara guru senior berbagi pengalaman pedagogis.Nah, yang lebih kompleks adalah proses penentuan nilai, terutama bagi siswa yang belum mencapai Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran (KKTP). Di sinilah guru dihadapkan pada dilema yang tidak sederhana.


(prf/ega)