JAKARTA, - Tragedi memilukan yang merenggut 16 nyawa di Simpang Susun Krapyak, KM 419, Tol Batang-Semarang, Semarang, bukan sekadar angka dalam statistik kecelakaan lalu lintas nasional.Ia adalah lonceng kematian yang mengungkap rapuhnya integrasi antara desain geometrik, kelaikan armada, dan psikologi pengendara di Indonesia.Kecelakaan maut ini menjadi titik kulminasi dari berbagai persoalan yang selama ini terabaikan di balik masifnya infrastruktur jalan bebas hambatan.Untuk membedah fenomena ini secara utuh, kita tidak bisa hanya menyalahkan faktor kelalaian manusia (human error), melainkan harus melihatnya melalui lensa analisis teknis yang tajam serta kebijakan industri yang saling berkelindan.Baca juga: Refleksi Kecelakaan Maut Tol Krapyak, dan Target Zero Accident NataruTragedi Krapyak adalah bukti nyata,sebuah desain infrastruktur yang terlihat memenuhi syarat di atas kertas belum tentu mampu menjamin keselamatan jika tidak mempertimbangkan ekspektasi alamiah manusia dan realitas armada yang melintas di atasnya.Melihat dari perspektif teknis perkerasan dan desain kendaraan, Pengamat Perkerasan Jalan dan Aspal yang juga mantan Direktur Bina Teknik Ditjen Bina Marga Kementerian PU, Purnomo, memberikan catatan kritis yang sangat mendasar.Menurut analisisnya, meskipun secara standar desain geometrik awal mungkin sudah dianggap memenuhi syarat teknis formal, terdapat masalah krusial pada permukaan perkerasan yang berkaitan dengan indeks kerataan atau International Roughness Index (IRI)."Ketidakrataan permukaan jalan, meski dalam skala milimeter, dapat memengaruhi stabilitas kendaraan bermuatan berat saat melakukan manuver di tikungan," ujarnya kepada Kompas.com, Kamis .Baca juga: Pengemudi ODOL Sering Playing Victim, Padahal Potensial KecelakaanPurnomo menekankan bahwa presisi dalam pelaksanaan pembangunan, terutama terkait superelevasi atau kemiringan melintang jalan di tikungan, sering kali kurang akurat.Ketidakakuratan kemiringan ini mengakibatkan gaya sentrifugal yang mendorong kendaraan ke luar jalur menjadi lebih besar daripada yang mampu ditahan oleh gesekan ban dan kemiringan jalan, terutama saat kendaraan melaju sedikit di atas batas kecepatan yang ditentukan.Namun, persoalan tidak berhenti pada aspal. Purnomo menggarisbawahi, dosa besar dalam sistem transportasi kita terletak pada inkonsistensi kebijakan di kementerian perhubungan yang mengakibatkan menjamurnya kendaraan Over Dimension dan Over Loading (ODOL).Masalah sistem pengereman dan pemeliharaan kendaraan yang buruk adalah efek domino dari beban berlebih yang dipaksakan.Analisis Purnomo meluas hingga ke aspek makro ekonomi yang cukup mengejutkan; ia menyoroti ketidakadilan tarif bea masuk kendaraan.Perlindungan industri dalam negeri dengan tarif bea masuk mencapai 40 persen untuk kendaraan dengan Jumlah Berat Izinkan (JBI) di bawah 24 ton atau tronton mengakibatkan harga truk baru menjadi sangat mahal.Akibatnya, para pengusaha terpaksa mempertahankan kendaraan tua yang berumur di atas 10 tahun untuk tetap beroperasi.Baca juga: Kecelakaan di Tol Jagorawi, Tiga Gardu Rusak
(prf/ega)
Analisis Kecelakaan Maut Krapyak, Tipuan Geometris dan Trumpet Interchange
2026-01-11 04:19:55
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-11 03:01
| 2026-01-11 02:27
| 2026-01-11 02:26
| 2026-01-11 01:59
| 2026-01-11 01:59










































