Cegah Anxiety dan Depresi, Menkes Ingatkan Pentingnya Deteksi Dini Kesehatan Jiwa

2026-01-12 04:57:57
Cegah Anxiety dan Depresi, Menkes Ingatkan Pentingnya Deteksi Dini Kesehatan Jiwa
JAKARTA, - Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menekankan pentingnya deteksi dini terhadap kesehatan jiwa.Pasalnya, saat ini banyak orang yang tidak menyadari bahwa mereka mengalami kecemasan atau anxiety hingga depresi."Kadang-kadang kita enggak tahu bahwa kita sudah mulai cemas atau anxiety, atau kita sudah masuk tahap yang lebih lanjut, tahap depresi, itu kadang-kadang kita enggak tahu," ujar Budi di Kantor Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Jakarta, Rabu .Baca juga: Wamenkes Ungkap 2 Juta Anak Alami Gangguan Kesehatan MentalKesehatan mental atau jiwa seseorang, kata Budi, sangat dipengaruhi oleh pikirannya. Maka dari itu, ia juga mengingatkan pentingnya menjaga pikiran tetap positif."Gimana caranya supaya kita mencegah, karena itu tadi kan, menjaga hidup sehat, sehat mental penting, itu pikirannya harus dijaga. Karena itu nanti akan membantu kita agar kondisi mentalnya baik kembali," ujar Budi.Di samping itu, Budi juga memberi pesan kepada generasi muda Indonesia untuk tidak memaksakan diri dalam melakukan sesuatu di luar kemampuannya.Menurutnya, memaksakan diri dalam melakukan sesuatu di luar kemampuan justru dapat menyebabkan stres pada generasi muda."Jangan terlalu stres, jangan terlalu memiliki apa, ambisi yang besar yang di luar kemampuan kita, jangan terlalu banyak dipikirin juga kalau susah, dan yang penting harus rajin berdoa, harus rajin meditasi," ujar Budi.Baca juga: Hakim MK Tanyakan Maksud Dalil Mental Health dalam Gugatan Hak Pensiun untuk DPROleh karena itu, pemerintah saat ini memiliki program Cek Kesehatan Gratis (CKG), di mana salah satu yang diperiksa adalah pengecekan kesehatan jiwa. Termasuk untuk siswa SD, SMP, dan SMA."Itu sebabnya program cek kesehatan gratis dimulai SD, SMP, SMA, ada tuh tes kesehatan jiwa, ya questionnaire saja dulu, tapi kalau dari jawabannya sudah agak menjurus, nanti kami referensikan ke dokter (spesialis kejiwaan)," ujar Budi.Baca juga: Young Health Summit 2025, BKKBN Tekankan Pentingnya Remaja Sehat Mental dan FisikSebelumnya, Badan Penyelenggara Jaminan Kesehatan (BPJS) Kesehatan mencatat adanya tren peningkatan pemanfaatan layanan kesehatan jiwa sepanjang periode 2020–2024.Dalam kurun waktu tersebut, total pembiayaan pelayanan di rumah sakit mencapai sekitar Rp 6,77 triliun dengan jumlah kasus sebanyak 18,9 juta.Direktur Utama BPJS Kesehatan, Ghufron Mukti, menegaskan bahwa layanan kesehatan jiwa merupakan hak seluruh peserta Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).Baca juga: 15 Persen ASN Jakarta Berpotensi Alami Gangguan MentalIa menekankan pentingnya akses layanan kesehatan jiwa yang setara sebagai bagian dari tanggung jawab negara dalam menjamin kesehatan fisik maupun mental warganya.Ghufron melanjutkan, provinsi dengan jumlah kasus tertinggi adalah Jawa Tengah sebanyak 3,4 juta kasus, disusul Jawa Barat, Jawa Timur, DKI Jakarta, dan Sumatera Utara.Berikut daftar provinsi di Indonesia yang memiliki kasus kesehatan jiwa tertinggi:Baca juga: PDI-P Kritik BPJS Kesehatan, Singgung Birokrasi yang Berbelit-belitLebih lanjut, kata Ghufron, skizofrenia menempati posisi pertama dengan jumlah kasus 7,5 juta dan biaya mencapai Rp 3,5 triliun. Adapun, anxiety disorders (gangguan ansietas) berada di posisi kedua dengan 3,2 juta kasus."Skizofrenia menjadi diagnosis dengan beban biaya dan jumlah kasus tertinggi, yakni sebanyak 7,5 juta kasus dengan total pembiayaan Rp 3,5 triliun," terangnya.


(prf/ega)