Kisah Ma Ina, Ibu Penjual Gorengan di Gorontalo yang Sukses Antarkan Anak jadi Sarjana

2026-01-12 11:54:42
Kisah Ma Ina, Ibu Penjual Gorengan di Gorontalo yang Sukses Antarkan Anak jadi Sarjana
GORONTALO, - Pegunungan Tilong Kabila masih berselimut awan pada Minggu . Demikian juga dengan gugusan pegunungan Tamuyodaa.Gerimis tipis pun menetes. Agustina Angkomona langsung cekatan mengambil jemuran yang baru digantung di kawat samping rumah tempat ia bekerja.“Sayang kalau kena air hujan, lebih baik dijemur di dapur,” kata Ma Ina -sapaan akrabnya-.Takdir hidup memang menuntun Ma Ina ke Gorontalo. Di sinilah ia berjuang dengan tekad menjadikan sang buah hati menjadi sarjana.Ma Ina adalah wanita berusia 57 tahun yang sederhana dan tekun bekerja. Cita-cita itu kini terwujud. Meski begitu, Ma Ina masih punya naluri untuk mengajarkan nilai-nilai baik ke anak-anak lain.Pada tahun 1980-an, Agustina Angkumona adalah gadis yang hidup bersama orang tuanya di Botubang Kecil Pulau Lembeh, Bitung, Sulawesi Utara.Perkenalannya dengan Suleman Ibrahim, seorang pekerja Badan Urusan Tenaga Sukarela Indonesia (BUTSI) asal Gorontalo mengantarkan mereka pada pernikahan pada tahun 1987.Baca juga: Hari Ibu dan Jatuh Bangun Rina Zainun: Ditolong Preman hingga Pelindung Perempuan KaltimSebagai istri, ia pun harus mendampingi suaminya ke Gorontalo, hidup di daerah yang belum pernah ia kunjungi.Di Gorontalo, suaminya bekerja sebagai tukang kayu yang penghasilannya bergantung pada panggilan dan permintaan orang.“Kalau di Pulau Lembeh kami bisa makan dengan mencabut ubi di kebun, ikan segar berlimpah, semua tersedia kapan saja. Di Gorontalo kami tidak tahu harus bagaimana,” kenang Ma Ina saat menjalani awal kehidupan di Gorontalo.Ma Ina pun menjalani kehidupan sederhana dengan suami dan anak pertamanya yang diberi nama Yayan Y Ibrahim, yang lahir tahun 1988.Ma Ina sempat kembali ke Bitung membawa anaknya yang baru berumur 4 bulan. Di sini keluarganya membangun ekonomi dengan berdagang, sementara sang suami bekerja di pelabuhan Bitung.“Kami masih bersyukur karena masih ada hasil kebun yang bisa dipanen seperti ubi dan sayuran untuk kebutuhan sehari-hari,” tutur Ma Ina.Baca juga: Kisah Ibu Tunggal di Jombang, Rela Jadi Tukang Kupas Bawang demi Pendidikan AnakNamun perjuangan di tanah kelahirannya tidak mudah. Ia pun kembali ke Gorontalo saat anak pertamanya berusia 4 tahun.Di Gorontalo, ia bersama suaminya bekerja keras untuk bisa membesarkan anak.


(prf/ega)