75 Persen Penyakit Bersifat Zoonosis, Pakar Tekankan Pentingnya "One Health"

2026-01-11 22:35:51
75 Persen Penyakit Bersifat Zoonosis, Pakar Tekankan Pentingnya
– Isu kesehatan global saat ini tidak dapat dipisahkan dari kesehatan hewan dan lingkungan.Faktanya, sekitar 75 persen ancaman penyakit menular memiliki sifat zoonosis—yaitu menular dari hewan ke manusia.Hal ini diungkapkan dalam International Conference on Advanced Veterinary Science and Technologies for Sustainable Development (3rd ICAVESS 2025) yang digelar di Gadjah Mada University Club Hotel, Jumat .Baca juga: 7 Penyebab Mata Kering, Ada Faktor Penuaan hingga Penyakit AutoimunPeneliti dari University of Sydney, Australia, Prof. Jenny-Ann, menyoroti bahwa ancaman global seperti pandemi, ketidaknyamanan pangan, dan krisis iklim diperparah oleh penularan penyakit lintas spesies.Oleh karena itu, penerapan pendekatan One Health—yang mengintegrasikan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan—adalah solusi mutlak.Konsep One Health ini, menurutnya, berakar dari sejarah panjang pemikiran kedokteran sejak abad ke-5 SM.Prof. Jenny-Ann menekankan empat pilar utama pelaksanaannya:Dalam implementasinya, ia menggarisbawahi pentingnya kompetensi ganda bagi tenaga veteriner.Kompetensi teknis meliputi kemampuan epidemiologi, surveilans, dan respons cepat terhadap wabah. Sementara kompetensi non-teknis mencakup kepemimpinan, advokasi, dan komunikasi dengan masyarakat.“Terdapat dua kompetensi yaitu teknis dan non-teknis yang keduanya merupakan hal penting untuk mengimplementasikan ilmu pengetahuan menjadi tindakan One Health,” jelas Prof. Jenny-Ann.Lebih lanjut, ia menyoroti bahwa keberlanjutan One Health di Asia tidak boleh bergantung pada pendanaan eksternal. Perlu adanya jalur berkelanjutan melalui kerja sama universitas, pemerintah, dan masyarakat."Masa depan One Health bergantung pada bagaimana integrasi kerja sama, visioner, dan tata kelola kolaboratif dijalankan,” pungkasnya.“Kita perlu memperkuat jaringan regional, berbagi pengetahuan, dan membangun masa depan yang lebih tangguh bagi pendidikan dan layanan veteriner di Asia,” ujar Dr. Hugo.Dr. Khongsak Thiangtum, Presiden Southeast Asian Veterinary Schools Association (SEAVSA), turut mengapresiasi peran kepemimpinan akademik Universitas Gadjah Mada (UGM) dalam kolaborasi di Asia Tenggara. Ia menyebut kolaborasi antar sekolah kedokteran hewan di kawasan ini menjadi kunci menghadapi tantangan global.Baca juga: Kemenko PMK: 80 Persen Wilayah Indonesia Rawan Penularan ZoonosisSementara itu, Prof. Dr. Wening Udasmoro, Wakil Rektor UGM Bidang Pendidikan dan Pembelajaran, mengapresiasi forum tersebut sebagai wadah penting.Ia menekankan bahwa semangat One Health adalah dasar untuk membangun masa depan yang sehat dan berkelanjutan.“Dengan kerja sama dari para ahli, pendidik, dan peneliti dari berbagai latar belakang mampu menciptakan jalur menuju pembangunan berkelanjutan,” jelas Prof. Wening.Prof. drh. Teguh Budipitojo, Dekan Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) UGM, menegaskan komitmen FKH UGM untuk memperkuat kerja sama antarnegara demi memajukan ilmu kedokteran hewan di kancah global.


(prf/ega)