Gerakan Ayah Mengambil Rapor dari Kemendukbangga, Upaya Libatkan Ayah dalam Pendidikan Anak

2026-01-12 04:27:46
Gerakan Ayah Mengambil Rapor dari Kemendukbangga, Upaya Libatkan Ayah dalam Pendidikan Anak
– Selama ini, urusan sekolah anak kerap identik dengan peran ibu.Mulai dari menghadiri rapat orang tua murid hingga mengambil rapor, kehadiran ibu sering dianggap sudah mewakili keluarga.Namun, anggapan itu perlahan ingin diubah oleh Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga/BKKBN) melalui Gerakan Ayah Mengambil Rapor (GEMAR)."Tujuannya, kami ingin Ayah hadir mengambil rapor anak ke sekolah sebagai bentuk cinta dan tanggung jawab," tulis akun Instagram @gatikemendukbangga, dikutip Rabu .Program ini secara resmi diluncurkan sebagai ajakan nasional agar ayah terlibat langsung dalam momen penting pendidikan anak, salah satunya saat pengambilan rapor di sekolah.Melalui Surat Edaran Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN Nomor 14 Tahun 2025, Kemendukbangga mendorong para ayah untuk hadir sendiri, bukan sekadar diwakili pasangan.Langkah ini dinilai sederhana, tetapi memiliki makna besar dalam membangun relasi ayah dan anak.Baca juga: Lapangan Kerja Minim Bikin Anak Indonesia Berisiko Fatherless, Benarkah?Mengambil rapor bukan hanya soal menerima nilai akademik.Di momen tersebut, orangtua biasanya berinteraksi langsung dengan guru, mendengar evaluasi perkembangan anak, serta membahas tantangan yang dihadapi di sekolah.Ketika ayah hadir, anak melihat bahwa pendidikan mereka menjadi perhatian bersama, bukan hanya tanggung jawab satu pihak.Program GEMAR juga dilatarbelakangi kekhawatiran terhadap fenomena fatherless, yakni kondisi ketika anak tumbuh tanpa keterlibatan aktif ayah dalam kehidupan sehari-hari, meski ayah secara fisik masih ada.Ketidakhadiran ini tidak selalu berarti ayah tidak tinggal serumah, tetapi lebih pada minimnya interaksi, komunikasi, dan kedekatan emosional.Kemendukbangga menilai keterlibatan ayah dalam untuk anak masih relatif rendah.Baca juga: Refleksi Hari Ayah Nasional, Saatnya Menghapus Budaya FatherlessDok. Freepik/Freepik Ilustrasi ayah dan anak perempuan.Hal ini terlihat dari angka fatherless yang masih tinggi di Indonesia.Dikutip dari laporan Kemendukbangga, angka fatherless di perkotaan Indonesia mencapai 25,4%, sementara di pedesaan mencapapai 26,3%.


(prf/ega)