JAKARTA, - Bank Indonesia (BI) memperkirakan volume transaksi pembayaran digital Indonesia akan melonjak drastis menjadi sekitar 160 miliar transaksi pada 2030, atau hampir empat kali lipat dibandingkan capaian tahun 2024.Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan, proyeksi tersebut didasarkan pada tren kenaikan penggunaan layanan pembayaran digital yang semakin masif di seluruh lapisan masyarakat."Dalam 5 tahun ke depan, 20-30 volume transaksi ini bisa mencapai hampir 4 kali lipat dari tahun 2024. Prediksi kami volume transaksi digital kita dari tahun 2030 akan mencapai 160 miliar transaksi dengan nilai hampir Rp 64 ribu triliun rupiah," ujar Perry dalam Mandiri BFN Fest 2025 pada Rabu .Baca juga: Kata Bank Indonesia soal Pembobolan Rp 200 Miliar via BI FastBI mencatat sepanjang 2025, transaksi pembayaran digital telah mendekati 50 miliar transaksi dengan nilai hampir Rp 79.000 triliun.Pertumbuhan itu dinilai sebagai hasil kombinasi perluasan penggunaan QRIS, meningkatnya transaksi melalui mobile banking dan internet banking, serta meluasnya penetrasi kanal pembayaran digital lainnya.Peningkatan akses teknologi serta bertambahnya jumlah pengguna dari generasi Y dan Z disebut menjadi faktor dominan yang mempercepat adopsi pembayaran digital.Kedua kelompok tersebut dipandang Perry semakin aktif bertransaksi secara digital seiring kenaikan pendapatan dan gaya hidup yang sepenuhnya terhubung dengan perangkat elektronik.Perry mengantisipasi ledakan transaksi tersebut, BI memperbarui Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia (BSPI) 2025–2030.Dokumen itu memuat lima fokus utama, yaitu penguatan infrastruktur pembayaran nasional, konsolidasi industri sistem pembayaran, dorongan inovasi instrumen dan kanal digital, perluasan kerja sama internasional, serta pengembangan Digital Rupiah sebagai alat pembayaran sah di ranah digital.Baca juga: Jadi Anggota Baru New Development Bank, Indonesia Siap Setorkan Modal Awal Rp 16,6 TriliunDalam aspek infrastruktur, BI menargetkan terwujudnya sistem pembayaran nasional yang terhubung dari Sabang hingga Merauke melalui modernisasi.Serta pembangunan pusat data transaksi pembayaran yang dapat dimanfaatkan untuk inovasi seperti credit scoring dan kecerdasan buatan.Di bidang inovasi, perluasan penggunaan QRIS tetap menjadi prioritas, termasuk pengembangan Pusat Inovasi Digital Nasional sebagai wadah kolaborasi pelaku industri dan talenta muda dalam menciptakan solusi digital baru.BI juga memperluas kerja sama internasional, termasuk integrasi QRIS dengan Jepang, China, India, Korea Selatan, dan Arab Saudi, setelah sebelumnya terkoneksi dengan Malaysia, Singapura, dan Thailand.Langkah ini dipandang sebagai bagian dari strategi memperkuat posisi Indonesia dalam ekonomi digital regional.Secara keseluruhan, BI menilai percepatan digitalisasi pembayaran akan menjadi fondasi utama pertumbuhan ekonomi digital, perluasan inklusi keuangan, dan peningkatan daya saing nasional dalam beberapa tahun ke depan, selama diimbangi dengan penguatan keamanan siber, perlindungan konsumen, dan manajemen risiko.
(prf/ega)
BI Prediksi Transaksi Digital RI Tembus Rp 160 Miliar pada 2030, Naik 4 Kali Lipat
2026-01-12 04:48:07
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 05:02
| 2026-01-12 05:00
| 2026-01-12 04:18
| 2026-01-12 04:12
| 2026-01-12 03:48










































