Update Banjir dan Longsor di Sumut: 43 Orang Meninggal, 88 Masih Dicari

2026-02-01 22:40:21
Update Banjir dan Longsor di Sumut: 43 Orang Meninggal, 88 Masih Dicari
- Jumlah korban jiwa akibat banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera Utara kembali bertambah.Hingga Kamis siang, tercatat 43 orang meninggal dunia, berdasarkan data terbaru Polda Sumatera Utara.Selain itu, 88 warga masih dinyatakan hilang dan dalam proses pencarian oleh tim SAR gabungan.Sementara korban luka-luka tercatat sebanyak 81 orang.Kabid Humas Polda Sumut, Kombes Ferry Walintukan menyampaikan, data tersebut merupakan laporan sementara yang dihimpun dari jajaran polres di wilayah terdampak sejak 24 November hingga hari ini."Jumlah korban meninggal 43 orang, luka-luka 81, dalam pencarian 88 orang,"kata Kombes Ferry Walintukan.Di tengah kondisi darurat, sebanyak 1.168 warga terpaksa mengungsi ke sejumlah titik, termasuk tenda darurat dan fasilitas umum.Baca juga: Jalan Binjai-Medan Lumpuh Diterjang Banjir, Pengendara Motor Dialihkan lewat TolFerry menyebutkan, aparat kepolisian bersama tim dari BPBD dan unsur lainnya masih terus melakukan pencarian korban serta penanganan darurat di lapangan."Kami melanjutkan pencarian bersama BPBD/stakeholder kepada korban yang belum ditemukan. Melaksanakan koordinasi dengan Pemda setempat untuk menyediakan tempat pengungsian bagi warga terdampak bencana alam," ujarnya.Menurut data BPBD Provinsi Sumatera Utara, total ada 15 kabupaten/kota yang terdampak banjir bandang, meluapnya aliran sungai, tanah longsor, angin puting beliung, serta pohon tumbang, hingga Kamis sore.Berikut daftar wilayah tersebut:Baca juga: Aceh Tanggap Darurat! Banjir-Longsor Lumpuhkan Banyak Daerah, Korban BerjatuhanPenanganan bencana masih berlangsung, sementara hujan dengan intensitas tinggi masih berpotensi terjadi di beberapa wilayah akibat cuaca ekstrem.Artikel ini tayang di Kompas.com dengan judul Korban Tewas Bencana Alam di Sumut Terus Bertambah, Kini 43 Orang Dilaporkan Tewas, 88 Hilang


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-02-01 21:06