Topeng Monyet Tetap Eksis di Jakarta karena Identitas Sosial yang Turun-Temurun

2026-01-14 09:06:42
Topeng Monyet Tetap Eksis di Jakarta karena Identitas Sosial yang Turun-Temurun
JAKARTA, — Di tengah gelombang hiburan digital yang kian mendominasi kota besar, tradisi topeng monyet tetap bertahan sebagai salah satu bentuk hiburan jalanan.Lebih dari itu, atraksi ini menyimpan identitas sosial yang diwariskan turun-temurun, terutama bagi para pawang yang menggantungkan hidup pada profesi tersebut.Menurut sosiolog Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Rakhmat Hidayat, meski jumlah pengamen topeng monyet kini makin jarang, profesi tersebut tetap eksis karena memiliki akar identitas dan jejaring sosial yang kuat.“Ada unsur sosial dan identitas profesi yang sudah melekat serta diwariskan turun-temurun sejak awal kemunculannya,” ujar Rakhmat kepada Kompas.com, Jumat .“Namun, lemahnya pengawasan dan keberadaan jaringan monyet yang tersebar membuat praktik ini tetap eksis,” lanjutnya.Baca juga: Bertahan di Tengah Larangan, Pengamen Topeng Monyet Masih Menyambung Hidup di JakartaTradisi topeng monyet mulai populer di Jakarta pada awal 1990-an. Saat itu, hiburan digital belum berkembang, sehingga atraksi jalanan seperti ini menjadi tontonan favorit anak-anak di permukiman kota.“Fenomena pengamen topeng monyet ini termasuk generasi awal jika dibandingkan dengan pengamen lain seperti badut, manusia silver, dan ondel-ondel,” ujar Rakhmat.“Awalnya, topeng monyet hadir sebagai hiburan. Monyet dianggap lucu karena bisa mengikuti perintah dari pawangnya,” katanya.Meski menghibur, atraksi ini kerap menimbulkan kekhawatiran karena beberapa monyet dilaporkan menggigit atau mengejar anak-anak.Pada masa itu, banyak pawang berkeliling secara berkelompok menggunakan alat musik sederhana. Topeng monyet pun menjadi sumber pendapatan utama bagi mereka.Memasuki tahun 2000-an, keberadaan topeng monyet meredup akibat persaingan hiburan jalanan baru serta kritik aktivis lingkungan terkait eksploitasi satwa.Meski sempat ditertibkan pemerintah, praktik ini muncul kembali setelah 2010 karena jejaring pawang yang saling terhubung.Baca juga: Cerita Deni, 25 Tahun Jadi Pengamen Topeng Monyet di Jakarta“Pemerintah seharusnya membatasi penggunaan hewan karena ada aspek eksploitasi. Perlu pendekatan humanis dan edukasi kepada para pawang, bukan represif,” jelas Rakhmat.Ia menambahkan, masyarakat masih memandang atraksi ini sebagai hiburan lucu, padahal terdapat risiko kesejahteraan hewan dan keselamatan publik.Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta, Hasudungan Sidabalok, menegaskan bahwa pengawasan terhadap penggunaan satwa primata untuk atraksi jalanan tetap berjalan.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Meski membawa teknologi kamera baru, rumor menyebut jumlah kamera belakang Xiaomi 17 Ultra justru dipangkas menjadi tiga, dari sebelumnya empat kamera pada Xiaomi 15 Ultra.Selain sensor 200 MP, ponsel ini diperkirakan mengusung kamera utama 50 MP serta kamera ultrawide 50 MP.Xiaomi juga dirumorkan bakal menjadi produsen pertama yang menghadirkan Leica APO zoom camera di ponsel. Teknologi ini diklaim mampu menghasilkan warna lebih akurat, detail lebih tinggi, serta performa makro yang lebih baik, termasuk dalam kondisi cahaya rendah.Di luar sektor kamera, Xiaomi 17 Ultra diperkirakan akan ditenagai chipset tercanggih Qualcomm saat ini, yakni Snapdragon 8 Elite Gen 5. Chipset tersebut bakal dipadukan dengan layar OLED berukuran 6,85 inci yang mendukung resolusi tinggi dan refresh rate tinggi.Baca juga: HP Xiaomi Redmi Note 15 Series Meluncur Global, Ini SpesifikasinyaDari sisi daya, ponsel ini dirumorkan mengusung baterai berkapasitas 7.000 mAh, meningkat dari 6.000 mAh pada generasi sebelumnya, dengan dukungan pengisian cepat hingga 100 watt.Soal desain, Xiaomi 17 Ultra disebut tidak banyak berubah dari pendahulunya. Ponsel ini dikabarkan tetap mengusung layar datar tanpa tepi melengkung, serta dilengkapi pemindai sidik jari ultrasonik di bawah layar untuk menunjang keamanan.Setelah debut di China pada pekan depan, Xiaomi 17 Ultra diyakini akan meluncur ke pasar global pada kuartal pertama atau sekitar bulan Januari-Maret 2026, sebagaimana dihimpun KompasTekno dari Android Headlines.

| 2026-01-14 07:39