Kisah Yahudi di Maroko yang Hidup Harmonis dengan Islam dan Kristen

2026-01-11 03:28:32
Kisah Yahudi di Maroko yang Hidup Harmonis dengan Islam dan Kristen
Penulis: Claudia Mende/DW IndonesiaRABAT, - Museum Yahudi itu tersembunyi di sebuah kawasan perumahan Casablanca— nyaris tak mencolok, dijaga seorang prajurit tunggal. Ia satu-satunya yang diketahui berdiri di dunia Arab.Di balik pintunya, waktu seperti berhenti: foto-foto hitam-putih dari 1920-an dan 1930-an memotret para pengrajin, perayaan, dan kehidupan keluarga Yahudi Maroko.Gulungan Taurat, pakaian, dan manuskrip kuno berjejer di etalase, sisa dari masa ketika komunitas Yahudi pernah menjadi bagian besar dari negeri ini.Baca juga: Buntut Penembakan Bondi, Yahudi di Australia Diajak Pindah ke IsraelHingga Perang Dunia II, sekitar 300.000 Yahudi tinggal di Maroko—dari total populasi 7 juta jiwa.Setelah Israel berdiri pada 1948, sebagian besar memilih pergi. Kekerasan anti-Yahudi di Oujda dan Jerada pada tahun yang sama, yang menewaskan lebih dari 40 orang, menjadi salah satu pemicunya.Kini, sekitar satu juta warga Israel keturunan Maroko hidup di Israel. Di Maroko sendiri, tersisa sekitar 3.000 hingga 5.000 Yahudi, mayoritas di Casablanca.Meskipun Yahudi merupakan minoritas yang kecil secara jumlah, sinagoga dan restoran kosher masih menjadi bagian dari pemandangan kota Casablanca hingga hari ini."Hal wajar ketika Yahudi, Kristen, dan Muslim hidup berdampingan""Yahudi merupakan bagian penting dari masyarakat. Mereka telah menciptakan hubungan khusus antara Maroko dan Israel," kata sejarawan Maroko Jamal Amiar kepada majalah TelQuel.Selama bertahun-tahun, kerajaan kesulitan untuk secara resmi mengakui hubungan khusus tersebut.Baru pada konstitusi 2011, budaya Yahudi diakui sebagai unsur yang memperkaya identitas Maroko, bersama dengan tradisi dan bahasa Amazigh, yang sering disebut sebagai bangsa Berber di masa lalu.  "Bagi kami, hal yang wajar ketika Yahudi, Kristen, dan Muslim untuk hidup berdampingan," kata Brahim Dargha, seorang lelaki berusia empat puluhan yang bekerja sebagai sopir, dalam wawancara dengan DW.Dargha adalah seorang Muslim dari Pegunungan Rif, wilayah terpencil di utara Maroko. Dia tinggal bersama seorang teman Israel di Casablanca, sambil dengan bangga menekankan warisan Amazighnya."Kami, Yahudi dan Amazigh, adalah orang Maroko asli, orang Arab datang kemudian," tambahnya.


(prf/ega)