2 Bulan Pasca Longsor Gunung Batu Kapur di Banyumas, Warga Tuntut Pabrik Semen Tanggungjawab

2026-01-13 10:25:07
2 Bulan Pasca Longsor Gunung Batu Kapur di Banyumas, Warga Tuntut Pabrik Semen Tanggungjawab
BANYUMAS, - Warga RW 1 Desa Darmakradenan, Kecamatan Ajibarang, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, menuntut pertanggungjawaban penuh PT Sinar Tambang Arthalestari (STAR), produsen Semen Bima, atas longsor gunung batu kapur yang merusak rumah warga dua akhir Oktober lalu.Tuntutan itu disuarakan melalui aksi pemasangan spanduk di pinggir jalan sekitar lokasi terdampak.Spanduk-spanduk tersebut bertuliskan antara lain, “Lindungilah Sumber Air Kami”, “Jauhkan Kami dari Bencana”, serta “Kami Tidak Menolak Pertambangan, Kami Hanya Menuntut Keselamatan, Keamanan, Kenyamanan”.Baca juga: Pabrik Semen Siap Bertanggung Jawab Penuh Terkait Longsornya Gunung Batu Kapur di BanyumasKoordinator aksi sekaligus Ketua RW 1 Desa Darmakradenan, Muhammad David Maulana, mengatakan warga sudah berulang kali melakukan mediasi dengan manajemen pabrik semen. Namun hingga kini tidak ada titik temu.“Pihak semen menolak menandatangani kesepakatan karena menyebut ini bencana alam, bukan akibat tambang,” kata David kepada wartawan seusai aksi.Menurut dia, sikap tersebut membuat warga merasa tanggung jawab perusahaan terhadap dampak tambang belum dijalankan secara konkret.Salah satu dari tiga warga yang rumahnya rusak akibat longsoran tambang, Erwin Baharudin, mengatakan hingga saat ini belum ada kepastian ganti rugi.“Termasuk tuntutan ganti untung kami bertiga juga sampai sekarang belum deal. Nilai yang diajukan PT STAR masih jauh dari tuntutan kami,” ujar Erwin.Baca juga: Amankan Lokasi Longsor Gunung Batu Kapur di Banyumas, 69 Jiwa Diungsikan SebulanErwin menegaskan, warga tidak menolak keberadaan tambang batu kapur. Namun mereka menilai keselamatan warga harus menjadi prioritas utama, mengingat jarak tambang yang sangat dekat dengan permukiman.“Warga menyuarakan lokasi penambangan yang berdekatan dengan pemukiman. Untuk itu warga terdampak meminta hak dan kewajiban juga diperhatikan dan ditunaikan pasca bencana akibat tambang ini,” kata Erwin.KOMPAS.COM/FADLAN MUKHTAR ZAIN Material longsor menembus tembok rumah warga di Desa Darmakradenan, Kecamatan Ajibarang, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Senin .Perwakilan PT STAR, Dedi, menyatakan perusahaan telah menjalankan tahap tanggap darurat bencana sejak kejadian longsor pada 26 Oktober 2025 bersama instansi terkait.“Perusahaan telah melakukan berbagai upaya untuk melakukan mitigasi risiko longsor susulan dan pembersihan area,” kata Dedi dalam pernyataan tertulis.Selain itu, perusahaan mengklaim telah memberikan bantuan sandang, pangan, santunan, serta menyediakan tempat tinggal sementara bagi warga terdampak yang hingga kini masih digunakan.“Kami dapat memahami bahwa pemasangan spanduk tersebut sebagai bentuk ekspresi warga, karena proses musyawarah antara tiga orang warga terdampak dengan tim yang ditunjuk perusahaan masih berlangsung. Kami berharap proses musyawarah tersebut dapat segera mencapai kesepakatan,” ujar Dedi.Longsor Terjadi di Kawasan TambangDiberitakan sebelumnya, gunung batu kapur setinggi sekitar 100 meter longsor di kawasan tambang pabrik semen di wilayah Ajibarang pada Minggu sore.Akibat peristiwa tersebut, tiga rumah warga dilaporkan rusak. Longsor diduga dipicu intensitas hujan tinggi yang menyebabkan kejenuhan air pada lahan di kawasan tambang.Namun bagi warga terdampak, persoalan utama bukan semata penyebab longsor, melainkan jaminan keselamatan dan kepastian tanggung jawab pascabencana.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Kondisi di Indonesia sangat berbeda. Sejumlah perguruan tinggi besar masih sangat bergantung pada dana mahasiswa. Struktur pendapatan beberapa kampus besar menggambarkan pola yang jelas:Data ini memperlihatkan satu persoalan utama: mahasiswa masih menjadi “mesin pendapatan” kampus-kampus di Indonesia. Padahal di universitas top dunia, tuition hanya berkontribusi sekitar 20–25 persen terhadap total pemasukan.Ketergantungan ini menimbulkan tiga risiko besar. Pertama, membebani keluarga mahasiswa ketika terjadi kenaikan UKT. Kedua, membatasi ruang gerak universitas untuk berinvestasi dalam riset atau membangun ekosistem inovasi. Ketiga, membuat perguruan tinggi sangat rentan terhadap tekanan sosial, ekonomi, dan politik.Universitas yang sehat tidak boleh berdiri di atas beban biaya mahasiswa. Fondasi keuangannya harus bertumpu pada riset, industri, layanan kesehatan, dan endowment.Baca juga: Biaya Kuliah 2 Kampus Terbaik di di Indonesia dan Malaysia, Mana yang Lebih Terjangkau?Agar perguruan tinggi Indonesia mampu keluar dari jebakan pendanaan yang timpang, perlu dilakukan pembenahan strategis pada sejumlah aspek kunci.1. Penguatan Endowment Fund Endowment fund di Indonesia masih lemah. Banyak kampus memahaminya sebatas donasi alumni tahunan. Padahal, di universitas besar dunia, endowment adalah instrumen investasi jangka panjang yang hasilnya mendanai beasiswa, riset, hingga infrastruktur akademik. Untuk memperkuat endowment di Indonesia, diperlukan insentif pajak bagi donatur, regulasi yang lebih fleksibel, dan strategi pengembangan dana abadi yang profesional serta transparan.2. Optimalisasi Teaching Hospital dan Medical Hospitality

| 2026-01-13 09:36