Budi Arie Sudah Komunikasi ke Jokowi dan Gibran Sebelum Umumkan Keinginan Masuk Gerindra

2026-02-05 12:31:45
Budi Arie Sudah Komunikasi ke Jokowi dan Gibran Sebelum Umumkan Keinginan Masuk Gerindra
JAKARTA, - Ketua Umum (Ketum) Projo Budi Arie Setiadi mengaku sempat berkomunikasi dengan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi), sebelum mengumumkan keinginannya untuk masuk Partai Gerindra.Budi Arie mengaku kepada Jokowi bahwa Projo akan mengeluarkan keputusan dan dirinya akan bergabung dengan Partai Gerindra."Ya, saya sampaikan bahwa akan ada beberapa keputusan strategis menyangkut Projo. Saya akan bergabung ke partai," kata Budi Arie, dalam siaran Gaspol di YouTube Kompas.com, dikutip Kamis .Menurut Budi Arie, Jokowi saat itu merespons positif keinginan Ketum Projo untuk bergabung dengan Gerindra.Baca juga: Gaspol Hari Ini: Budi Arie ke Prabowo untuk Cari Beking Kasus Hukum? "Ya, silakan. Karena beliau juga tahu hitungannya," ungkap dia.Selain Jokowi, Budi Arie juga mengaku sudah berkomunikasi dengan Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka, soal keinginannya untuk masuk Gerindra.Ketika menyampaikan hal ini, menurut dia, putra sulung Jokowi itu juga merespons dengan baik."Saya sudah diskusi dengan Pak Wapres juga, Mas Gibran waktu itu. Saya sudah sampaikan. Beliau juga mengerti langkah-langkah saya," kata Budi Arie.Budi Arie menuturkan kepada Jokowi dan Gibran bahwa keinginannya untuk masuk partai yang dipimpin Presiden RI, Prabowo Subianto, adalah aspirasi dari banyak pihak."Bahwa ini bagian dari aspirasi warga negara dan kita sudah lama jadi ketua umum ormas Projo. Ya sudah lah, kita coba bergabung," ujar Budi Arie."Kan makanya saya minta izin begitu, izin untuk bergabung dan memperkuat partai yang dipimpin oleh Pak Prabowo. Begitu loh," sambung dia.Diberitakan sebelumnya, Budi Arie Setiadi kini memiliki ambisi untuk bergabung dengan Partai Gerindra setelah sebelumnya berencana mengubah Projo menjadi partai politik baru.Baca juga: Budi Arie dan Projo Dinilai sedang “Survival Mode” di Era PrabowoBudi Arie menyatakan hal itu di depan relawan Projo yang tengah berkongres pada Sabtu dan Minggu .Budi mengeklaim, langkah itu merupakan bagian dari transformasi organisasi relawan Projo yang dia pimpin.Selain itu, langkah ini menurut dia adalah untuk mengikuti perintah Presiden Prabowo Subianto untuk bergabung memperkuat visi dan misi pemerintahan."Jadi mohon izin jika suatu saat saya berpartai, teman-teman Projo bisa memahaminya. Enggak usah ditanya lagi partainya apa. Karena apa? Saya mungkin satu-satunya orang yang diminta oleh Presiden langsung di sebuah forum," kata Budi, dalam Kongres III Projo di Grand Sahid Jaya, Sudirman, Jakarta Pusat, 1 November 2025.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Kondisi di Indonesia sangat berbeda. Sejumlah perguruan tinggi besar masih sangat bergantung pada dana mahasiswa. Struktur pendapatan beberapa kampus besar menggambarkan pola yang jelas:Data ini memperlihatkan satu persoalan utama: mahasiswa masih menjadi “mesin pendapatan” kampus-kampus di Indonesia. Padahal di universitas top dunia, tuition hanya berkontribusi sekitar 20–25 persen terhadap total pemasukan.Ketergantungan ini menimbulkan tiga risiko besar. Pertama, membebani keluarga mahasiswa ketika terjadi kenaikan UKT. Kedua, membatasi ruang gerak universitas untuk berinvestasi dalam riset atau membangun ekosistem inovasi. Ketiga, membuat perguruan tinggi sangat rentan terhadap tekanan sosial, ekonomi, dan politik.Universitas yang sehat tidak boleh berdiri di atas beban biaya mahasiswa. Fondasi keuangannya harus bertumpu pada riset, industri, layanan kesehatan, dan endowment.Baca juga: Biaya Kuliah 2 Kampus Terbaik di di Indonesia dan Malaysia, Mana yang Lebih Terjangkau?Agar perguruan tinggi Indonesia mampu keluar dari jebakan pendanaan yang timpang, perlu dilakukan pembenahan strategis pada sejumlah aspek kunci.1. Penguatan Endowment Fund Endowment fund di Indonesia masih lemah. Banyak kampus memahaminya sebatas donasi alumni tahunan. Padahal, di universitas besar dunia, endowment adalah instrumen investasi jangka panjang yang hasilnya mendanai beasiswa, riset, hingga infrastruktur akademik. Untuk memperkuat endowment di Indonesia, diperlukan insentif pajak bagi donatur, regulasi yang lebih fleksibel, dan strategi pengembangan dana abadi yang profesional serta transparan.2. Optimalisasi Teaching Hospital dan Medical Hospitality

| 2026-02-05 12:27