Kapolres Rohil Beri Penghargaan 22 Personel yang Ungkap Sabu 79,9 Kg

2026-01-14 01:19:37
Kapolres Rohil Beri Penghargaan 22 Personel yang Ungkap Sabu 79,9 Kg
Kapolres Rokan Hilir (Rohil) AKBP Isa Imam Syahroni memberikan penghargaan kepada personel Satresnarkoba Polres Rohil dan Polsek Bangko atas pengungkapan 79,9 kilogram sabu. Pengungkapan tersebut diklaim terbesar se-Riau sepanjang tahun 2025.Penghargaan diberikan langsung oleh AKBP Isa di Mapolres Rohil, pada Rabu (17/12/2025) pagi tadi. Turut hadir dalam upacara tersebut, Wakapolres Rokan Hilir Kompol Rikky Operiady, para Kabag, Kasat, perwira, serta seluruh personel Polres Rokan Hilir."Capaian pengungkapan narkotika seberat 79,970 kilogram ini merupakan prestasi luar biasa yang patut dibanggakan dan diapresiasi bersama," kata AKBP Isa.Menurutnya, penghargaan tersebut tidak hanya menjadi bentuk pengakuan institusi terhadap kinerja personel, namun juga menjadi motivasi bagi seluruh anggota Polri."Penghargaan ini juga diharapkan memotivasi seluruh personel untuk terus meningkatkan profesionalisme, integritas, dan dedikasi dalam menjalankan tugas," imbuhnya.Di samping itu, ia juga menekankan pentingnya peningkatan disiplin, keimanan, serta sikap toleransi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Ia mengajak seluruh personel untuk menjadikan kritik masyarakat sebagai bahan evaluasi dan pemacu semangat dalam meningkatkan kualitas pelayanan kepolisian.Total ada 22 personel dari Sat Narkoba dan Polsek Bangko yang menerima piagam penghargaan atas pengungkapan kasus narkoba tersebut. Selain piagam penghargaan, Kapolres Rohil juga menyerahkan bibit pohon sebagai simbol komitmen Polri dalam mendukung pelestarian lingkungan yang sejalan dengan semangat Green Policing.Sebelum menutup sambutannya, AKBP Isa mengingatkan seluruh jajaran Satnarkoba dan polsek untuk meningkatkan pengawasan terhadap potensi masuknya peredaran narkotika ke wilayah Kabupaten Rokan Hilir, menjelang akhir tahun 2025."Tingkatkan kewaspadaan, lakukan pemetaan dan deteksi dini serta jalin terus koordinasi dan komunikasi antar-instansi guna mencegah peredaran narkotika, khususnya menjelang akhir tahun ini," pungkasnya.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-01-14 00:07