Curhat Driver Ojol di Denpasar, Menata Hidup "Pakai" Aplikasi

2026-01-12 16:53:30
Curhat Driver Ojol di Denpasar, Menata Hidup
DENPASAR, - Di antara padatnya lalu lintas Denpasar, Bali, Gede Angga Sanjaya menghabiskan hari-harinya di atas sepeda motor. Bersama helm, jaket, dan ponsel yang menjadi perlengkapan utama.Namun di balik itu, ada cerita tentang perubahan hidup, penerimaan atas keterbatasan, dan upaya bertahan di tengah ekosistem kerja digital yang serba cepat.Dia mengaku tidak pernah merencanakan menjadi pengemudi ojek online.Sebelumnya, ia bekerja sebagai general admin di sebuah perusahaan leasing. Rutinitas kantor yang menuntut mobilitas penuh tidak lagi sejalan dengan kondisi fisiknya pascaoperasi.Baca juga: Kuliah Sambil Jadi Kurir Paket, Gibran Harus Pandai Bagi Waktu dan Rendahkan Ego“Baru 2,5 tahun dari tahun 2023. Karena saya habis operasi kaki, kalau misalkan masih kerja di kantor lama kan saya harus ngecek kesana kemarin agak kesusahan, akhirnya saya mengundurkan diri," tutur pria yang biasa disapa Tebo, Minggu malam.Setahun lebih berada di rumah menjadi masa refleksi, ia pun berfikir untuk mencari pekerjaan yang tidak mengikat waktu dan tempat. Kemudian informasi dari teman-temannya menjadi pintu masuk ke dunia ojek online.“Saya nanya ke teman, kebetulan ada yang kenal terus disuruh bawa persyaratan dan akhirnya diterima setelah melalui proses,” imbuh dia.KOMPAS.COM/SUCI RAHAYU Sudah 2,5 tahun Gede Angga Sanjaya menjadi salah satu driver ojol yang ada di Bali bersiap untuk menjemput penumpangnya, Minggu malam.Kini, ojek online menjadi pekerjaan utamanya, meski ia tetap menjaga keterhubungan dengan profesi lamanya sebagai freelancer berbekal ilmu dan pengalaman di pekerjaan sebelumnya.Apalagi lebih banyak waktu di jalan berarti lebih besar pula risiko yang dihadapi. Namun baginya tantangan terbesar justru datang dari sistem penilaian pelanggan yang sangat menentukan keberlangsungan akunnya.“Kalau risiko sih di mana saja ada cuma berusaha meminimalisir kesalahan saja di ojol. Karena review customer itu kadang-kadang tidak selalu benar, apalagi kalau kita handel bule-bule,” ujar Gede Angga Sanjaya. “Dulu saya pernah dikasih bintang satu dan di-suspend sampai tujuh hari, gara-gara ulasan bule itu, padahal hal sepele mungkin kalau customer lokal itu lebih paham kalau bule kan terlalu spesifik ga ngerti keadaan dijalan bagaimana,” sambungnya.Baca juga: Jadi Kurir Paket, Hamdan Kerap Bantu Pelanggan supaya Tak Tertipu Pesanan PalsuWalaupun merasa situasi tersebut tidak sepenuhnya adil, ia memilih memahami bahwa sistem bekerja dengan caranya sendiri.“Kadang-kandang tidak menyalahkan juga sih bahwa itukan berpengaruh ke performa kita mereka kan main pencet-pencet saja,” ujarnya lagi.Seiring berjalannya waktu setiap hari, arah perjalanannya tidak pernah pasti. Ia mengikuti alur aplikasi, berpindah sesuai orderan penumpang.“Untuk jangkauan ngojol saya mengikuti saja mulai dari rumah saya karena kan bergerak dari seputaran kita mulai dari radius 4 km, jadi ya tidak bisa diprediksi kita akan ke mana kadang-kadang ada yang tripnya jauh, Denpasar ke Gianyar, atau Denpasar ke tabanan,” kata pria berusia 38 tahun itu.KOMPAS.COM/SUCI RAHAYU Sudah 2,5 tahun Gede Angga Sanjaya menjadi salah satu driver ojol yang ada di Bali.


(prf/ega)