IHSG Hari ini Berpeluang Menguat ke Level 8.577, Berikut Saham Pilihan Analis

2026-01-12 04:37:56
IHSG Hari ini Berpeluang Menguat ke Level 8.577, Berikut Saham Pilihan Analis
JAKARTA, - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan bergerak menguat pada awal pekan ini, Senin , setelah perdagangan sebelumnya ditutup melemah tipis atau terkoreksi 0,07 persen ke level 8.414.Analis Teknikal MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, memproyeksikan IHSG masih bergerak dalam bagian wave (iii) dari wave [iii], sehingga secara teknikal indeks memiliki potensi melanjutkan penguatan menuju kisaran 8.540-8.577 pada perdagangan hari ini. Meski demikian, analis mengingatkan agar pelaku pasar tetap mencermati potensi tekanan jual, khususnya pada skenario koreksi (label merah) yang dapat membawa IHSG menguji area 8.311-8.350 sekaligus menguji support trendline jangka pendeknya.“Kami perkirakan, IHSG masih berada pada bagian dari wave (iii) dari wave [iii], sehingga IHSG masih berpeluang menguat ke rentang area 8,540-8,577. Namun cermati label merah, dimana koreksi IHSG akan menguji rentang 8,311-8,350 sekaligus menguji support trendline,” ujar Herditya dalam analisa hariannya,Adapun level teknikal penting yang perlu diperhatikan hari ini berada pada support 8.341 dan 8.276, sementara area resistance tercatat di 8.488 dan 8.532.Baca juga: IHSG Sepekan Naik 0,52 Persen, Kapitalisasi Pasar Rp 15.391 TriliunSementara itu, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus alias Nico, menyebut IHSG berpotensi menguat terbatas dengan support dan resistance 8.350-8.440.“Berdasarkan analisa teknikal, kami melihat IHSG berpotensi menguat terbatas dengan support dan resistance 8.350-8.440,” paparnya.Menurutnya, sejumlah risiko global, terutama ketidakpastian kebijakan tarif Amerika Serikat di bawah pemerintahan Donald Trump, diperkirakan masih akan membatasi ruang penguatan indeks. Dari pasar global, perhatian investor saat ini tertuju pada sengketa tarif antara pemerintah AS dan Mahkamah Agung. Trump disebut telah menyiapkan rencana cadangan apabila pengadilan memutuskan untuk mencabut tarif yang selama ini ia terapkan.Baca juga: Arah Wall Street Pekan Ini: Investor Tunggu Sinyal Daya Beli Konsumen ASOpsi yang dipertimbangkan pemerintah meliputi penggunaan Pasal 301 dan Pasal 122 Undang-Undang Perdagangan, yang memungkinkan presiden menetapkan bea masuk secara sepihak. Namun, penerapannya dinilai akan lebih lambat dan terbatas dibanding kewenangan sebelumnya.Di tengah ketidakpastian tersebut, pekan ini pasar global akan dibanjiri rilis data ekonomi penting. Dari AS, investor menanti data Housing Starts, Building Permits, New Home Sales, hingga Retail Sales Advance yang diproyeksikan melemah. Data inflasi produsen (PPI) diperkirakan meningkat, sementara indeks kepercayaan konsumen Conf. Board diperkirakan turun menjelang akhir pekan.Dari Eropa, pelaku pasar menunggu data Consumer Confidence dan Economic Confidence, sementara ECB akan merilis proyeksi CPI 1 tahun yang diperkirakan menurun. Perekonomian yang stabil memberi peluang tambahan pemangkasan suku bunga akhir tahun atau awal 2026.Baca juga: IHSG Loyo, Tapi 10 Saham Ini Tetap Diborong Asing Sepekan TerakhirDari Asia, Tiongkok akan merilis data Industrial Profits dan PMI Manufacturing yang tidak diperkirakan memberikan dampak signifikan. Jepang justru menjadi perhatian, dengan rilis Tokyo CPI, PPI Services, hingga Jobless Rate yang diproyeksikan menurun namun masih menunjukkan pasar tenaga kerja yang ketat.Dari dalam negeri, Bank Indonesia mencatat aliran dana asing masuk sebesar Rp 2,29 triliun pada pekan ketiga November 2025. Inflow terutama berasal dari pembelian bersih di pasar saham (Rp 3,93 triliun) dan surat berharga negara (SBN) (Rp 2,66 triliun). Meski demikian, investor asing melakukan penjualan bersih pada Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) hingga Rp 4,30 triliun.Baca juga: Harga Bitcoin Menguat Tipis, Pasar Kripto Masih Bergerak Volatil


(prf/ega)