Likuiditas Rp 200 Triliun Jadi Titik Balik, Investor Asing Mulai Lirik Lagi Saham RI

2026-01-16 13:28:58
Likuiditas Rp 200 Triliun Jadi Titik Balik, Investor Asing Mulai Lirik Lagi Saham RI
JAKARTA, – Suntikan likuiditas Rp 200 triliun ke Himpunan Bank Milik Negara atau Himbara dinilai mengubah sentimen investor global terhadap pasar keuangan Indonesia, terutama pasar modal. Kebijakan tersebut disertai komitmen pemerintah menjaga stabilitas fiskal.Chief Marketing Officer Jarvis Asset Management Kartika Sutandi menilai aliran likuiditas memunculkan rasa percaya diri baru di pasar. Dampaknya terlihat pada penguatan berbagai kelas aset. Pasar saham menjadi salah satu yang paling cepat merespons.Pemerintah melalui Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menempatkan dana negara Rp 200 triliun ke Himbara. Kebijakan fiskal itu diambil tidak lama setelah Purbaya dilantik sebagai Menteri Keuangan pada September 2025.“Disuplai ke bank, jadi likuiditasnya diinjeksikan. Kan aku bilang, kalau ada likuiditas, aset pasti naik. Kebetulan yang naik saham. Karena ada confidence saja, orang kayak dapat fresh breath,” ujar Kartika yang akrab disapa Tjoe Ay dalam program Filonomics Kompas.com, Kamis .Baca juga: Harga Saham Melonjak Disebut “Gorengan”, Tjoe Ay Sebut Salah KaprahMenurut Tjoe Ay, dampak kebijakan mulai terasa saat pelaku pasar melakukan roadshow ke investor asing. Umpan balik broker yang bertemu fund global menunjukkan investor sempat berada dalam fase bingung dan cemas. Sentimen negatif mendominasi. Stabilitas ekonomi Indonesia sempat diragukan.Indonesia selama ini dikenal investor global sebagai negara dengan stabilitas makroekonomi, disiplin fiskal, dan konsistensi kebijakan moneter. Kekhawatiran sempat tercermin pada pelemahan nilai tukar rupiah ketika sentimen negatif memuncak.Pasar kemudian mulai mencerna arah kebijakan pemerintah. Investor asing perlahan menerima kepemimpinan Purbaya Yudhi Sadewa. Sinyal tegas menjaga disiplin fiskal menjadi faktor penting. Tidak ada langkah agresif yang berpotensi mengguncang stabilitas.“Awalnya orang asing itu bingung, ‘kok semuanya ini hilang?’ Padahal sebenarnya Indonesia itu dicintai karena stabilitasnya. Makanya waktu sentimen jelek, rupiah geser. Tapi after a while, sekarang asing sudah bisa terima Pak Purbaya,” paparnya.Dalam beberapa pekan terakhir, Indonesia kembali masuk rekomendasi overweight sejumlah pelaku pasar global. Perubahan tersebut terjadi saat valuasi pasar sudah kembali naik.“Sekarang overweight di atas 8.000, tapi sebelumnya, waktu di bawah 8.000, justru underweight,” kata Tjoe Ay.Baca juga: IHSG Tembus 8.600, Optimisme Ekonomi Menguat, Peluang Imbal Hasil Saham Kian Terbuka?Perubahan sentimen tidak berlangsung cepat. Awal periode ditandai pandangan suram terhadap Indonesia. Perlahan investor mulai mau mendengar kembali narasi pertumbuhan ekonomi. Konsistensi pesan dan kredibilitas kebijakan pemerintah menjadi kunci.“And then tone-nya dari yang suram sampe sekarang udah bisa baik. So, mereka lumayan mau dengerin sekarang. Jadi growth-nya dia rencananya gimana? Dulu kan belum ada credibility, slowly, dan orang takut dia gasnya kekencengan defisitnya kita jebol. Tapi dia langsung kasih statement tetap menjaga 3 persen defisit, stabilitasnya. Jadi asing tenang,” ucapnya.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Kondisi di Indonesia sangat berbeda. Sejumlah perguruan tinggi besar masih sangat bergantung pada dana mahasiswa. Struktur pendapatan beberapa kampus besar menggambarkan pola yang jelas:Data ini memperlihatkan satu persoalan utama: mahasiswa masih menjadi “mesin pendapatan” kampus-kampus di Indonesia. Padahal di universitas top dunia, tuition hanya berkontribusi sekitar 20–25 persen terhadap total pemasukan.Ketergantungan ini menimbulkan tiga risiko besar. Pertama, membebani keluarga mahasiswa ketika terjadi kenaikan UKT. Kedua, membatasi ruang gerak universitas untuk berinvestasi dalam riset atau membangun ekosistem inovasi. Ketiga, membuat perguruan tinggi sangat rentan terhadap tekanan sosial, ekonomi, dan politik.Universitas yang sehat tidak boleh berdiri di atas beban biaya mahasiswa. Fondasi keuangannya harus bertumpu pada riset, industri, layanan kesehatan, dan endowment.Baca juga: Biaya Kuliah 2 Kampus Terbaik di di Indonesia dan Malaysia, Mana yang Lebih Terjangkau?Agar perguruan tinggi Indonesia mampu keluar dari jebakan pendanaan yang timpang, perlu dilakukan pembenahan strategis pada sejumlah aspek kunci.1. Penguatan Endowment Fund Endowment fund di Indonesia masih lemah. Banyak kampus memahaminya sebatas donasi alumni tahunan. Padahal, di universitas besar dunia, endowment adalah instrumen investasi jangka panjang yang hasilnya mendanai beasiswa, riset, hingga infrastruktur akademik. Untuk memperkuat endowment di Indonesia, diperlukan insentif pajak bagi donatur, regulasi yang lebih fleksibel, dan strategi pengembangan dana abadi yang profesional serta transparan.2. Optimalisasi Teaching Hospital dan Medical Hospitality

| 2026-01-16 13:08