Silsilah Keraton Solo dari Pakubuwono I hingga XIII, Pewaris Takhta Mataram Islam

2026-01-11 22:20:50
Silsilah Keraton Solo dari Pakubuwono I hingga XIII, Pewaris Takhta Mataram Islam
- Wafatnya Sri Susuhunan Pakubuwono XIII pada Minggu menutup satu babak penting dalam sejarah panjang Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, salah satu pusat peradaban Jawa yang berdiri lebih dari dua setengah abad.Kepergiannya bukan hanya meninggalkan duka bagi masyarakat Solo, tetapi juga menjadi momen untuk kembali menelusuri silsilah para raja Keraton Solo, yang akarnya berasal dari Kerajaan Mataram Islam.Baca juga: Raja Keraton Surakarta dari Masa ke Masa, PB II hingga XIIIKeraton Solo atau Kasunanan Surakarta berdiri setelah Perjanjian Giyanti pada 13 Februari 1755, yang mengakhiri perang saudara antara Pangeran Prabasuyasa (Pakubuwono II), Pangeran Mangkubumi (Sultan Hamengkubuwono I), dan Raden Mas Said (Pangeran Sambernyawa).Dalam perjanjian itu, wilayah Kerajaan Mataram Islam dibagi dua:Sejak saat itu, Surakarta berkembang menjadi pusat budaya dan spiritual Jawa, di mana gelar “Pakubuwono” menjadi simbol keberlanjutan tradisi Mataram.Dinasti ini dimulai oleh Pakubuwono I (Pangeran Puger), putra Amangkurat I dan cucu Sultan Agung, raja besar Mataram.Ia memimpin dari Keraton Kartasura sebelum pusat kerajaan dipindahkan ke Desa Sala pada 1745, yang kemudian menjadi Keraton Surakarta Hadiningrat.Gelar panjang yang diwariskan kepada keturunannya adalah:“Susuhunan Pakubuwana Senapati ing Alaga Abdurrahman Sayyidin Panatagama Khalifatullah Tanah Jawa.”Nama asli: Pangeran Puger.Dikenal sebagai raja yang berhasil menegakkan kembali legitimasi Mataram pascaperang saudara.Nama asli: Raden Mas Prabasuyasa.Memindahkan pusat kerajaan dari Kartasura ke Desa Sala akibat kerusuhan, yang menandai berdirinya Keraton Surakarta pada 1745.Nama asli: Raden Mas Suryadi.Pemerintahannya diwarnai konflik internal hingga lahirnya Perjanjian Giyanti (1755) yang memisahkan Surakarta dan Yogyakarta.TROPENMUSEUM Pakubuwono XII saat muda.


(prf/ega)