Psikolog Ungkap Kondisi AL, Anak 12 Tahun yang Bunuh Ibu di Medan, Tak Temukan Trauma dan Tenang

2026-01-17 07:23:56
Psikolog Ungkap Kondisi AL, Anak 12 Tahun yang Bunuh Ibu di Medan, Tak Temukan Trauma dan Tenang
MEDAN,  - Psikolog Forensik, Irna Minauli mengungkapkan kondisi psikologis AL (12) pasca insiden yang meregang nyawa ibunya, F (42), dengan 26 tusukan.Irna menjelaskan, sempat memeriksa kondisi AL kurang dari seminggu pasca kejadian. Hasilnya, ia belum menemukan tanda-tanda traumatik."Anak terlihat pendiam, tenang, mampu menjawab pertanyaan dengan runtut. Secara keseluruhan terlihat cukup terkendali dan lebih matang dibandingkan anak seusianya," kata Irna kepada Kompas.com melalui saluran telepon pada Selasa .Baca juga: Anak Umur 12 Tahun Bunuh Ibu di Medan dengan Sadis, Apa Mungkin? Irna tidak menemukan adanya impulsivitas atau ketidakmampuan mengendalikan dorongan. Artinya, AL cukup terkendali dan tidak ada gangguan mental yang tampak."Tanda-tanda traumatik seperti post-traumatic stress disorder atau accute stress disorder tidak tampak selama pemeriksaan," ucap Irna."Anak memperlihatkan kesedihan dan penyesalannya tapi tidak sampai menimbulkan trauma," tambahnya.Baca juga: Penjelasan Psikolog soal Game Kekerasan yang Picu Anak Bunuh Ibu di MedanMeski begitu, Irna menjelaskan bahwa ada kemungkinan AL mengalami delay trauma atau secondary trauma, sebab banyak yang bertanya sehingga membangkitkan pengalaman traumatis."Ya (secara umum) bisa berminggu atau berbulan kemudian," ujar Irna.Ia menyebutkan, anak yang mengalami trauma biasanya ditandai dengan mimpi buruk, adanya lintasan ingatan atas peristiwa tersebut, serta ketakutan ketika memikirkan atau berada di lokasi kejadian.Baca juga: Anak Bunuh Ibu di Medan, Psikolog: Pelaku Sakit Hati Kakaknya DipukuliAL dan korban tidur di kasur bagian atas. Sedangkan kakak AL tidur sendirian di kasur bagian bawah. Di sisi lain, suami korban beristirahat di lantai dua.Pada Rabu sekitar pukul 04.00 WIB, AL terbangun dan memandangi korban yang sedang terlelap tidur.Baca juga: Polisi Tak Temukan DNA Ayah di TKP Anak Bunuh Ibu di Medan "Adik (AL) mengambil pisau, membuka bajunya, dan melukai korban," kata Calvijn saat menggelar konferensi pers di Polrestabes Medan pada Senin .Akibatnya, korban mendapati 26 luka tikam. Lalu, sang kakak terbangun karena ditimpa oleh AL. Ia amat terkejut melihat AL menikam ibunya berkali-kali.Dia lekas merampas pisau AL dan membuangnya dalam kamar. Tangan kakak sempat tersayat. AL beranjak ke dapur untuk mengambil pisau kecil.Baca juga: Kapolrestabes: Obsesi Anak Bunuh Ibu di Medan dari Game dan Anime Saat AL hendak masuk ke kamar lagi, sang kakak langsung menutup pintu sehingga pisau yang dipegang AL terjatuh.Panik melihat ibunya bersimbah darah, sang kakak berlari ke lantai dua untuk membangunkan ayahnya. AL turut menyusul ke lantai dua, dengan kondisi sudah mengenakan baju, dan memeluk ayahnya.Lalu ketiganya turun ke lantai satu. Kakak dan bapak mengecek kondisi korban. Sedangkan AL terduduk lemas di sofa ruang tamu.Baca juga: Trauma Berat, Kakak dari Anak yang Bunuh Ibu di Medan Alami Gangguan Stres Akut"Kondisi korban masih hidup dan meminta dipanggil ambulans," ucap Calvijn.Korban sempat pula meminta minum dan segera dipenuhi kakak. Suami korban pun segera menelpon Rumah Sakit Columbia.Menunggu ambulans, korban kembali dibaringkan di tempat tidur. Beberapa menit kemudian, ambulans datang, sekitar pukul 05.40 WIB, namun korban didapati sudah meninggal dunia.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Kebijakan ini tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 12 Tahun 2025 yang mengatur Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) yang ditanggung pemerintah untuk kendaraan listrik tertentu.Namun, penghentian insentif diprediksi membuat penjualan BEV pada tahun depan melambat.“Tentu itu akan merubah penjualan mobil listrik, apalagi saat ini kondisi ekonomi kita masih menantang. Penggerak roda industri otomotif kan pada middle income class,” ujar Yannes saat ditemui belum lama ini.Meski begitu, Yannes menekankan bahwa pasar kendaraan elektrifikasi secara keseluruhan belum tentu melemah.“Total segmentasi BEV kemungkinan akan melambat, tetapi pertumbuhan kelak akan digerakkan BEV rakitan lokal ya,” lanjutnya.Meski begitu, Yannes menilai pasar kendaraan elektrifikasi secara keseluruhan belum tentu melemah. Segmen hybrid electric vehicle (HEV) diperkirakan akan tumbuh, karena menawarkan kombinasi efisiensi bahan bakar tanpa kekhawatiran jarak tempuh.“Segmentasi HEV akan sangat subur, karena konsumen rasional akan memilih HEV sebagai safe haven. Efisiensi BBM ada, range anxiety nol,” ujar Yannes.Ia menambahkan, untuk menjaga momentum pertumbuhan kendaraan listrik, peran kelas menengah menjadi kunci.“PR kita pertama adalah menaikkan middle income class kita. Ekonomi tolong buktikan bisa tembus 5,4 persen tahun ini dan 6 persen di tahun depan,” kata Yannes.Baca juga: Mobil Listrik Indonesia: BYD Dominasi, Jaecoo dan Wuling Bersaing/Adityo Wisnu Mobil hybrid Rp 300 jutaan“Dan janji di 2029 tercapai, yaitu 8 persen. Itu baru kita bisa belanja dengan enak lagi,” tutupnya.Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan mobil berbasis baterai sepanjang 2025 mencatat pertumbuhan signifikan.Dari Januari hingga November 2025, wholesales BEV telah mencapai 82.525 unit, naik 113 persen dibanding periode sama tahun lalu.Segmen PHEV juga mencatat lonjakan luar biasa, meningkat 3.217 persen menjadi 4.312 unit, sementara mobil hybrid mengalami pertumbuhan 6 persen, dari 53.986 unit pada periode sama tahun lalu menjadi 57.311 unit.

| 2026-01-17 07:35