3 Pekan Berlalu, Permukiman Warga Aceh Tamiang Masih Gelap Gulita dan Dipenuhi Lumpur

2026-01-11 23:16:13
3 Pekan Berlalu, Permukiman Warga Aceh Tamiang Masih Gelap Gulita dan Dipenuhi Lumpur
ACEH TAMIANG, - Tiga pekan setelah banjir besar melanda Aceh Tamiang, kondisi permukiman warga masih jauh dari pulih.Hingga Minggu malam, sebagian besar wilayah permukiman warga masih gelap gulita tanpa aliran listrik, sementara lumpur sisa banjir masih menumpuk di jalan, gang, pekarangan, dan dalam rumah.Pengamatan Kompas.com pada Minggu petang hingga malam hari menunjukkan bahwa lampu rumah warga dan penerangan jalan di sejumlah kawasan permukiman tidak menyala.Hal ini terlihat di Desa Bundar, Kecamatan Karang Baru, serta kawasan Kota Lintang Atas dan Kota Lintang Bawah, Aceh Tamiang.Situasi di lapangan tersebut kontras dengan pernyataan sejumlah pejabat pemerintah yang menyebutkan bahwa aliran listrik di Provinsi Aceh telah tersambung hampir sepenuhnya.Baca juga: Kisah Warga Hadapi Banjir Aceh Tamiang: Saya Gigit Beras, Minum Air Lumpur, Kayu Luar Biasa MenakutkanDi sepanjang Jalan Lintas Sumatera wilayah Aceh Tamiang, lampu penerangan jalan sebagian besar belum menyala.Penerangan hanya terlihat di kawasan Jembatan Aceh Tamiang, yang menjadi salah satu pusat pengungsian warga.Sumber cahaya utama di jalan raya pada malam hari hanya berasal dari kendaraan yang melintas dan sejumlah lokasi yang menggunakan genset.Jarak pandang pengendara pun sangat terbatas, hanya sekitar tiga meter, akibat minimnya penerangan dan debu tebal dari lumpur kering sisa banjir yang beterbangan tertiup angin.Di dalam kawasan permukiman yang jauh dari jalan raya, kondisi lebih memprihatinkan.Tidak ada satu pun lampu yang menyala, sehingga warga mengandalkan senter, lilin, hingga lampu kendaraan untuk menerangi rumah mereka pada malam hari.Baca juga: Saat Listrik Terbatas di Aceh Tamiang, Tenaga Surya Bantuan Pertamina Topang Posko PengungsiBima (21), warga Desa Bundar, Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang, mengungkapkan bahwa aliran listrik di wilayah tempat tinggalnya belum menyala sama sekali sejak banjir terjadi pada 26 November 2025.“Masih belum hidup, Bang. Di rumah, di permukiman kami juga belum,” ujarnya saat ditemui di posko pengungsian, Minggu malam.Dia menjelaskan, setiap hari harus mendatangi posko pengungsian untuk mengisi daya telepon selulernya dan milik warga lain.“Iya, betul. Untuk ngecas. Rekan-rekan yang mengungsi lainnya juga saya bawakan,” tambahnya.


(prf/ega)