Produktif tapi Rapuh dalam Kepemimpinan Modern

2026-01-11 03:57:24
Produktif tapi Rapuh dalam Kepemimpinan Modern
TIDAK pernah sebelumnya kita hidup di zaman yang begitu obsesif terhadap produktivitas. Setiap pagi, dashboard kinerja dibuka. Target disusun. Angka dikejar. Laporan ditutup. Grafik dinaikkan.Di banyak organisasi, produktivitas telah menjadi bahasa universal, ukuran tunggal keberhasilan, dan bahkan legitimasi kepemimpinan.Pemimpin dianggap berhasil ketika angka bergerak ke arah yang benar, ketika efisiensi meningkat, dan ketika organisasi tampak berjalan cepat.Namun di balik semua itu, muncul pertanyaan yang kian sulit dihindari menjelang 2026: apakah kita benar-benar sedang membangun kepemimpinan yang kuat, atau hanya menciptakan organisasi yang tampak produktif, tetapi sesungguhnya rapuh?Inilah paradoks besar kepemimpinan modern. Di satu sisi, organisasi terlihat semakin gesit, semakin digital, dan semakin agresif mengejar hasil.Di sisi lain, manusia di dalamnya, para pekerja, tim, bahkan para pemimpin itu sendiri mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan, keterputusan, dan kehilangan makna.Produktivitas meningkat, tetapi daya tahan menurun. Kinerja terlihat tinggi, tetapi fondasi psikologis dan sosialnya rapuh.Global Culture Report 2026 dari O.C. Tanner Institute menangkap kegelisahan ini dengan sangat jelas.Laporan ini tidak memulai analisisnya dari teknologi, strategi, atau struktur, melainkan dari satu hal yang sering dianggap “lunak”, tapi justru menentukan segalanya: inspirasi manusia di tempat kerja.Baca juga: Ship of State dan Bahaya Kapal Dipimpin yang Tak Paham NavigasiDisebutkan dengan tegas bahwa leaders have a significant influence on creating inspiration for employees. Kepemimpinan bukan sekadar soal mengatur kerja, tetapi tentang menyalakan energi batin orang-orang yang dipimpinnya.Lebih jauh, laporan ini menunjukkan bahwa inspirasi tidak hanya datang dari atas. 'Team members can inspire one another through collaboration and sharing ideas'.Artinya, budaya kerja yang sehat bukanlah budaya satu arah. Ia tumbuh dari interaksi, kolaborasi, dan rasa saling menguatkan.Namun, di banyak organisasi modern yang terlalu fokus pada kecepatan dan output, ruang untuk interaksi manusiawi justru menyempit. Rapat menjadi mekanis. Komunikasi menjadi transaksional. Hubungan kerja direduksi menjadi fungsi.Di titik inilah produktivitas mulai berubah menjadi kerentanan. Ketika manusia hanya dilihat sebagai sumber daya, bukan sebagai sumber makna.Salah satu temuan paling penting dalam Global Culture Report 2026 adalah peran 'recognition' atau pengakuan. Disebutkan secara eksplisit bahwa 'recognition is a valuable source of inspiration to employees'.Pengakuan bukan sekadar pujian formal atau program seremonial, melainkan sinyal psikologis bahwa seseorang dilihat, dihargai, dan diakui kontribusinya. Tanpa pengakuan, kerja kehilangan makna. Tanpa makna, produktivitas tidak memiliki daya tahan.Lebih menarik lagi, laporan ini menegaskan bahwa inspirasi dan dukungan harus hadir di setiap tahap proses kerja. Mulai dari 'guidance and support when establishing goals', bantuan dalam 'identifying alternative paths when confronted with obstacles', hingga 'encouragement and recognition along the way'.Kepemimpinan yang sehat bukan hanya hadir di awal dengan visi besar, atau di akhir dengan evaluasi, tetapi menemani proses manusiawi di tengah jalan, saat orang ragu, gagal, atau tersesat.Data dalam laporan ini sangat kuat. Bahkan pada proyek yang tidak berjalan sesuai rencana, peluang munculnya harapan meningkat enam kali lipat ketika pemimpin memberikan dukungan, dan tujuh kali lipat ketika rekan kerja saling mendukung.'Peer-to-peer recognition' terbukti menjadi kekuatan besar dalam membangun dan mempertahankan komunitas kerja. Ini adalah pesan penting bagi kepemimpinan modern: harapan tidak lahir dari target, tetapi dari relasi.Amy Bradley, PhD, Professor of Leadership and Management dari Hult Ashridge, merangkum esensi ini dengan sangat apik.Ia mengatakan bahwa kemampuan untuk menemukan makna dalam keseharian, melalui koneksi yang berkualitas, kerja bersama, rasa didukung, kesempatan mengekspresikan potensi penuh, atau membuat perbedaan bagi komunitas dan planet adalah kunci yang menggerakkan karyawan maju dan meningkatkan keterlibatan serta kinerja.Pernyataan ini seolah mengingatkan kita bahwa produktivitas sejati bukanlah hasil paksaan, melainkan buah dari makna.


(prf/ega)